PERILAKU ORGANISASI BAB 3 DAN 4

BAB 3

DIMENSI-DIMENSI YANG TERDAPAT DALAM PERILAKU

DAN PEMBENTUKAN PERSONAL MEANING

A. Dimensi Persepsi

  1. 1.         Menjajaki pengertian persepsi

Persepsi dalam kamus diartikan sebagai proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus diperoleh dari proses pengindraan terhadap objek, pristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diperoleh oleh otak. Proses kognisi dimulai dari persepsi, melalui persepsilah manusia mandang dunianya. Apakah dunia terlihat berwarna, cerah, pucat, atau hitam, semuanya adalah persepsi manusia. Persepsi harus dibedakan dengan sensasi (sensation).

Jadi dapat dikatakan sensasi adalah proses manusia dalam menerima informasi sensoris (energi fisik dari lingkungan) melalui pengindraan dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal “neural” yang bermakna. Misalnya, ketika seseorang melihat (menggunakan indra visual “mata”) sebuah benda berwarna merah, ada gelombang cahaya dari benda itu yang ditangkap oleh organ mata, lalu diproses dan ditransformsikan menjadi sinyal-sinyal di otak, kemudian diinterpretasikan sebagai “warna merah”.

 

  1. 2.         Prinsip persepsi

Sebagian besar dari prinsip persepsi merupakan prinsip pengorganisasian berdasarkan teori Gestalt. Teori Gestalt percaya bahwa persepsi bukanlah hasil penjumlahan bagian yang diindra seseorang, tetapi lebih dari itu merupakan keseluruhan (the whole). Teori Gestalt menjabarkan beberapa prinsip yang dapat menjelaskan cara seseorang menata sensasi menjadi suatu bentuk persepsi.

Prinsip persepsi yang utama adalah prinsip figure and ground. Prinsip ini menggambarkan bahwa manusi secara sengaja maupun tidak, memilih dari serangkaian stimulus mana yang menjadi fokus atau bentuk utama (=figure) dan mana yang menjadi latar (=ground).

 

  1. 3.         Prinsip pengorganisasian persepsi

Beberapa prinsip pengorganisasian persepsi,

  1. Prinsip Proximity; seseorang cenderung memersepsi stimulus-stimulus yang berdekatan sebagai satu kelompok.
  2. Prinsip Similarity; seseorang cenderung memersepsikan stimulus yang aman sebagai satu kesatuan.
  3. Prinsip Continuty; prinsip ini menunjukan bahwa kerja otak manusia secara alamiah melakukan proses melengkapi informasi yang diterimanya walaupun sebenarnya stimulus tidak lengkap.

 

  1. Diterminasi persepsi

Disamping faktor-faktor teknis seperti kejelasan stimulus (misalnya suara yang jernih, gambar yang jelas), kekayaan sumber stimulus (misalnya, media multichennel, seperti audio-visual), persepsi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis. Faktor psikologis ini bahkan terkadang lebih menentukan bagaimana informasi (pesan/stimulus) dipersepsikan.

 

 

 

 

Faktor yang sangat dominan adalah faktor ekspektansi dari sipenerima informasi sendiri. Ekspektansi memberikan kerangka berpikir atau perceptual set atau mental set tertentu yang menyiapkan seseorang untuk memersepsi dengan cara tertentu. Mental set ini dipengaruhi oleh beberapa hal berikut,

  1. Ketersediaan informasi sebelumnya; ketiadaan informasi ketika seseorang menerima stimulus yang baru bagi dirinya akan menyebabkan kekacauan dalam memersepsi.
  2. Kebutuhan; seseorang cenderung memersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhannya saat ini.
  3. Pengalaman masa lalu; sebagai hasil dari proses belajar, pengalaman sangat memengaruhi cara seseorang memersepsikan sesuatu.

Faktor psikologis lain yang juga penting dalam persepsi,

1)      Emosi; memengaruhi seseorang dalam menerima dan mengolah informasi pada suatu saat karena sebagian energi dan perhatiannya (menjadi figure) adalah emosinya.

2)      Impresi; stimulus yang salient/menonjol, akan lebih dahulu memengaruhi persepsi seseorang.

3)      Konteks; walaupun disebutkan terakhir, tidak berarti faktor ini kurang penting, nahkan mungkin yang paling penting. Konteks bisa secara sosial, budaya, atau lingkungan fisik.

 

B. Dimensi Nilai

  1. 1.         Memahami nilai

Nilai mencerminkan keyakinan-keyakinan dasar bahwa “bentuk khusus perilaku atau bentuk akhir keberadaan secara pribadi atau sosial lebih dipilih dibandingkan dengan bentuk prilaku atau bentuk akhir keberadaan pelawanan atau kebalikan.” (Robbins, 2006). Nilai mengandung unsur pertimbangan yang mengemban gagasan-gagasan seorang individu mengenai apa yang benar, baik, atau diinginkan. Nilai mempunyai atribut isi dan intensitas.

 

  1. 2.         Pentingnya nilai

Nilai penting untuk mempelajari perilaku organisasi karena nilai menjadi dasar untuk memahami sikap dan motivasi, serta memengaruhi persepsi kita. Individu-individu memasuki organisasi dengan gagasan yang dikonsepkan sebelumnya mengenai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya.

 

  1. 3.         Tipe nilai

Milton Rokeach menciptakan Survei Nilai Rokeach (RVS). RVS terdiri atas dua perangkat nilai, dengan tiap perangkat berisi 18 butir nilai individu. Satu perangkat yang disebut nilai terminal, merujuk pada bentuk akhir keberadaan yang sangat diinginkan. Perangkat lain yang disebut nilai instrumental, merujuk pada bentuk perilaku atau upaya-upaya untuk mencapai nilai-nilai terminal yang lebih disukai oleh orang tertentu.

 

 

 

 

 

 

Nilai-nilai Terminal

Nilai-nilai Instrumental

  • Kehidupan yang nyaman (kehidupan yang makmur)
  • Kehidupan yang menarik (kehudupan yang memotivasi dan aktif)
  • Rasa pencapaian (kontribusi permanen)
  • Dunia dalam perdamaian (bebas dari peperangan dan konflik)
  • Dunia keindahaan (keindahan alam dan seni)
  • Kesetaraan (persaudaraan, peluang yang sama untuk semua)
  • Keamanan keluaga (merawat mereka yang dicintai)
  • Kebebasan (kemerdekaan, pilihan bebas)
  • Kebahagiaan (kepuasan)
  • Harmoni internal (kebebasan dari konflik internal)
  • Cinta yang matang (keintiman seksual dan spiritual)
  • Keamanan nasional (perlindungan dari serangan)
  • Kesenangan (kehidupan yang dapat dinikmati dan menyenangkan)
  • Keberkahan (kehidupan yang selamat dan abadi)
  • Kehormatan diri (harga diri)
  • Pengakuan nasional (kehormatan, kekaguman)
  • Persahabatan sejati (pertemanan dekat)
  • Kebijaksanaan (pemahaman matang tentang kehidupan)
    • Ambisius (pekerja keras, penuh harapan);

 

  • Berpandangan luas (berpikiran terbuka)

 

  • Berkemampuan (kompeten, efektif)
  • Cerai (ringan hati, suka cita)

 

  • Bersih (rapi, tertata)

 

  • Penuh keberanian (membela keyakinan-keyakinan anda)
  • Pema’af (bersedia memberi ma’af demi kebaikan orang lain)
  • Jujur (tulus, terbuka)
  • Imajinatif (penyayang, kreatif)
  • Independen (mengandalkan diri sendiri, kepuasan diri)
  • Intelektual (cerdas, reflektif)

 

  • Logis (konsisten, rasional)

 

  • Pencinta (penyayang, lembut)

 

  • Patuh (setia, penuh hormat)

 

  • Sopan (beradab, berprilaku baik)
  • Tanggung jawab (tempat bergantung, dapat diandalkan)
  • Pengendalian diri (terkendali, disiplin)

 

  1. 4.         Fungsi nilai

Fungsi utama nilai dapat dijelaskan sebagai berikut;

  1. Nilai sebagai standar (Rokeach, 1973; Schwartz, 1992, 1994)
  2. Sistem nilai sebagai rencana umum dalam memecahkan konflik dan pengambilan keputusan (Feather, 1995; Rokeach, 1973; Schwartz, 1992, 1994)
  3. Fungsi motivasional

Fungsi langsung nilai adalah fungsi mengarahkan tingkah laku individu dalam situasi sehari-hari, sedangkan fungsi tidak langsungnya adalah mengekspresikan kebutuhan dasar sehingga nilai dikatakan memiliki fungsi motivasional.

 

  1. 5.         Hubungan nilai dan tingkah laku

Dalam kehidupan manusia, nilai berperan sebagai standar yang mengarahkan tingkah laku. Nilai membimbing individu untuk memasuki suatu situasi dan cara individu bertingkah laku dalam situasi tersebut (Rokeach, 1973; Kahle dalam Homer & Kahle, 1988). Nilai juga menjadi kriteria yang dipegang oleh individu dalam memilih dan memutuskan sesuatu (Williams dalam Homer & Kahle, 1988).

Nilai juga merupakan salah satu komponen yang berperan dalam tingkah laku. Perubahan nilai dapat mengarahkan terjadinya perubahan tingkah laku. Perubahan nilai telah terbukti secara signifikan menyebabkan perubahan pula pada sikap dan tingkah laku memilih pekerjaan, merokok, mencontek, mengikuti aktivitas politik, pemilihan teman, ikutserta dalam aktifitas penegakan hak asasi manusia, membeli mobil, memilih aktivitas di waktu senggang, berhubungan dengan ras lain, menggunakan media massa, mengantisipasi penggunaan media, dan orientasi politik (Horner & Kahle, 1988).

 

  1. 6.         Pengukuran nilai

Selama ini pengukuran nilai didasarkan pada hasil evaluasi diri yang dilaporkan oleh individu ke dalam suatu skala pengukuran (misalnya Rokeach value survey, Schwartz value survey). Evaluasi diri membutuhkan pemahaman kognitif maupun afektif terhadap diri sendiri, termasuk untuk membedakan antara nilai ideal normatif dan nilai faktual yang ada saat ini.

Cara lain yang digunakan unuk mengetahui nilai individu adalah dengan teknik wawancara. Teknik ini telah digunakan oleh Rokeach (1973) untuk menggali nilai-nilai apa saja yang dimiliki seseorang.

Berdasarkan teori yang telah diuraikan sebelumnya, nilai-nilai seseorang akan tampak dalam beberapa indikator berikut;

  1. Pernyataan tentang keinginan-keinginan, prinsip hidup, dan tujuan hidup seseorang.
  2. Tingkah laku subjek dalam kehidupannya sehari-hari.
  3. Fungsi nilai dalam memotivasi tingkah laku.
  4. Salah satu fungsi nilai adalah dalam memecahkan konflik dan mengambil keputusan.
  5. Fungsi nilai dari nilai adalah membimbing individu dalam mengambil posisi tertentu dalam suatu topik sosial tertentu dan mengevaluasinya.

C. Dimensi Sikap

1. Pengertian Sikap

Sikap adalah pernyataan-pernyataan evaluative, baik yang diinginkan atau yang tidak diinginkan mengenai objek, orang, atau peristiwa. Sikap mencerminkan cara seseorang merasakan sesuatu.

2. Tipe-tipe Sikap

            Sebagian besar penelitian dalam OB telah terfokus pada tiga sikap, yaitu:

  1. Kepuasan kerja. Istilah ini merujuk pada sikap umum individu terhadap pekerjaannya. Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja tinggi menunjukan sikap yang positif terhadap kerja itu, seseorang yang tak puas dengan pekerjaannya menunjukan sikap negatife terhadap pekerjaan itu.
  2. Keterlibatan kerja. Yaitu bahwa keterlibatan kerja mengukur derajat seseorang secara psikologis mengertikan dirinya pekerjaannya dan menganggap tingkat kinerjanya sebagai hal penting bagi harga diri.
  3. Komitmen pada organisasi. Sikap tersebut didefinisikan sebagai keadaan karyawanyang mengaitkan dirinya pada organisasi tertentu dan sasaran-sasarannya, serta berharap memperhatikan keanggotaan dalam organisasi itu. Dengan demikian, keterlibatan kerja yang tinggi, berarti mengaitkan diri pada pekerjaan khusus seseorang, sedangkan komitmen pada organisasi yag tinggi berarti mengaitkan diri pada organisasi yang mempekerjakannya.

 

3. Sikap dan Konsistensi

Penelitian umumnya menyimpulkan bahwa orang-orang mengusahakan konsistensi diantara sikap-sikapnya serta antara sikap dan prilakunya. Ini berarti bahwa individu-individu berusaha menyatukan sikap-sikap yang berpisah dan memadukan sikap dan prilaku mereka sehingga tampak rasional dan konsisten. Jika terjadi ketidakkonsistenan, digunakanlah kekuatan untuk mengendalikan individu itu pada keseimbangan, yaitu sikap dan prilaku kembali konsisten.

 

D. Personal Meaning

            Frankl (dalam wiebe, 2001) memandang bahwa seseorang yang memiliki personal meaning yang positif (fulfillment of personal meaning) dalam kehidupan, ia akan berkontribusi pada harapan serta bersikap optimisme dan menghargai terjadinya suatu masa buruk dalam siklus kehidupan.

Frankl (dalam wiebe 2001) berkeyakinan bahwa meaningfulness (kebermaknaan) dalam hidup, berhubungan dengan self esteem yang tinggi dan prilaku yang murah hati terhadap orang lain, sedangkan meaningless (ketidakbermaknaan) dalm hidup berasosiasi dengan ketidak pedulian atau melepaskan diri (diengageement).

  1. 1.      Personal meaning dalam beberapa persepektif
  2. Persepektif Relatifitas

Dalam penelitiannya tersebut battista dan almond menemukan 4 hal yang biasa di temukan yang berhubungan degan personal meaning yaitu sebgai berikut :

  1. Orang yang percaya bahwa hidupnya bermakna secara positif pasti menyakini konsep0konsep tertentu, seperti humanistic, religiusitas, atau idiosyncratic yang berhubungan dengan makna kehidupan.
  2. Konsep meaning yang mereka yakini memunculkan kekonsistensian mereka untuk mencapai arah dan tujuan hidup mereka.
  3. Orang yang percaya bahwa hidup mereka bermakna entah hidup mereka sudah bermakna atau mereka yang masih berusaha mencapai tujuan hidupnya.
  4. Dalam proses mencapai tujuan hidup yang mereka buat dalam diri seseorang, akan muncul perasaan signifikan pada diri mereka sendiri dan rasa bangga terhadap kehidupan mereka.
  5. Persepektif Eksistensial

Tujuan pokok humanism-eksistensialis adalah keselamatan dan kesempurnaan manusia.

  1.  persepektif eksistensial Sartre

pandangan sarte mebgenai eksistensialisme sebagai humanism adalah ajaran yang menghargai kehidupan manusia, dan mengajarkan bahwa setiap kebenaran dan tindakan mengandung keterkibatan lingkungan dan subjektifitas manusia (Sartre dalam soejadi, 2001). Sartre berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan, kemerdekaan, dan merupakan makhluk pribadi yang otonom.

  1. Persefektif eksistensial omoregbe

Omoregbe (dalam soejadi,2001) mengatakan implikasinya dalam sikap dan tindakan humanis, bahwa kebebasan manusia, menurut Sartre memberikan dan membawa jalan keluar yang pundamental untuk mentransindensi atas dunia, menumbuhkan semangat keberanian manusia untuk berbuat lebih kreatif dan progresif dalam usaha meraih hidup yang lebih tinggi, member peluang kepada setiap pribadi manusia untuk mengemabngkan diri.

2.Definisi Meaning dan Personal Meaning

a. Definisi Meaning Menurut Maslow

  Maslow (dalam wiebe,2001) mengatakan bahwa meaning di alami dari aktualisasi diri, individu yang termotifasi untuk mngetahui alas an atau maksud dari keberadaan dirinya.

  1. Definisi Meaning Menurut Baumeister

Baumeister (1991) mengatakan bahwa meaning mengandung beberapa bagian kepercayaan yang saling berhubungan antara benda, kejadian, dan hubungan.

  1. Definisi Meaning Menurut Frankl

Frankl ( dalam wiebe, 2001) mengonsepkan meaning sebagai pengalaman dalam merespons tuntutan dalam kehidupan, menjelajahi dan meyakini adanya tugas unik dalam kehidupannya, dan membiarkan dirinya mengalami atau meyakini keseluruhan meaning.

  1. Definisi Personal Meaning Menurut Reker

Menurut Reker, personal meaning adalah memiliki tujuan hidup, memiliki arah, merasa memiliki kewajiban dan alas an untuk ada (eksis), identitas diri yang jelas, dan kesadaran social yang tinggi.

 

 

3.Dimensi Meaning

a. Structural Components (Komponen Stuktural)

1. Komponen Kognitif

Kompnen kognitif diartikan sebagai system keyakinan individu dan pandangan menyeluruh yang telah terbangun dalam konteks budaya yang spesifik dan dipengaruhi oleh pengalaman kehidupan individu yang unik.

2.Komponen Motifasional

Komponen motifasional adalah system nilai yang dibangun pada setiap individu. Nilai adalah pedoman kehidupan, yang mengarahkan pada tuujuan yang harus dicapai oleh seseorang, dan cara mencapai tujuan tersebut, nilai ditentukan oleh kebutuhan individu, kepercayaan, dan masyarakat.

3.Komponen Efektif

Komponen efektif terdiri atas rasa puas ( satisfaction) dan pemenuhan atau perasaan terpenuhi (fulfillment) individu yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman dan keberhasilan mencapai tujuan individu tersebut.

 

 

4.Komponen Personal dan Social(Reconditions of Meaning)

Recondition of meaning terdiri atas hubungan social dan kualifikasi personal. Komponen social terdiri atas hubungan personal, cinta, dan empati. Komponen personal terdiri atas kualitas unik pada individual, atribut personal (seperti menjadi kreatif, fleksibel, adaktif, intelektuel, memiliki rasa ingin tahu, dan bertanggung jwab), yang mempengaruhi personal meaning.

b.Sources of Meaning (Sumber Meaning)

Sumber meaning, yaitu isi area-area yang berbeda atau tema personal yang dialami meaning.darimanameaning berasal? Nilai dan kepercayaan adalah landasan kuat dari sumber meaning. Nilai didefinisikan sebagai konstruk yang melebihi situasi spesifik, dan nilai lebih disukai secara personal dan social.

 

4.Breadth of Meaning

Breadth of meaning adalah kecenderungan individu untuk mengalami atau memperoleh meaning dari beberapa sumber yang berbeda. Reker dan Wong (dalam Reker dan Camberline, 2000) menyatakan bahwa individual: (a). akan mengalami meaning dari beberapa sumber yang berbeda, (b). semakin banyak sumber meaning yang dimiliki, semakin mengarahkan individu tersebut pada rasa pemenuhan (fulfillment) yang lebih besar.

 

5.Depth of Meaning

Depth of meaning menunjukan kualitas pengalaman meaning individu. Apakah pengalaman meaning individu tersebut dangkal, dalam, atau hanya sebagian? Menurut Reker dan Wong (dalam reker dan camberline, 2000), ada empat level depth yang menunjukan tingkat meaning yang dialami individu. Keempat level ini depth ini dikategorikan menjadi self-preoccupation dengan kesenangan kenyamanan (level 1), pengabdian waktu dan tenaga untuk mewujudkan potensi diri (level 2), pelayanan bagi orang lain dan komitmen terhadap lingkup social yang lebih luas, atau alas an politis(level 3), dan nilai yang menyenangkan yang melebihi arti individu dan meliputi alam semesta, dan tujuan akhir kehidupan (level 4).

 

6. Proses Penghayatan Hidup Tak Bermakna Menjadi Lebih Bermakna Atau Penemuan Personal Meaning.

Basstman (1996) melihat proses makna hidup seseorang dalam suatu proses yang merupakan urutan pengalaman dari penghayatan hidup tak bermakna menjadi lebih bermakna, atau berdasarkan definisi reker disebut proses penemuan personal meaning


 

BAB 4

KELOMPOK DAN TIM DALAM ORGANISASI

 

A.DEFINISI KELOMPOK

Klompok didefinisikan sebagai dua individu atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung untuk mencapai tujuan tertentu.

2 Alasan seseorang bergabung dengan kelompok :

1.Untuk mencapai tujuan apabila dlakukan sendiri tujuan itu tidak tercapai

2.Dalam kelompok,kebutuhan seseorang dapat terpuaskan dan mendapat reward social,seperti rasa bangga,rasa dimiliki,cinta,pertemanan dsb.

Brainstorming dalam mengambil keputusan kelompok efektif apabila anggota kelompok 5-15 orang

Kohesivitas kelompok merupakan derajat yang anggota kelompoknya  saling menyukai,memiliki tujuan yang sama,ingin slalu mendambakan kehadiran anggota lainnya.

Kelompok dapat disimpulkan  bahwa kelompok adalah suatu unit yang terdiri atas sekelompok/sekumpulan dua orang atau lebih yang satu sama lain berinteraksi dalam mencapai suatu tujuan yang  telah ditetapkan  secara bersama-sama dalam suatu wadah tertentu.

Kelompok formal adalah kelompok yang ditetapkan berdasarkan struktur organisasi dengan penugasan kerja yang ditentukan.adapun kelompok Informal adalah persekutuan yang tidak terstruktur secara formal dan tidak ditetapkan secara organisasi.

B.KLASIFIKASI KELOMPOK

1.Kelompok Formal

Adalah kelompok yang sengaja dibentuk dengan keputusan manajer melalui suatu bagan organisasi untuk menyelesaikan tugas secara efektif  dan efesien.kelompok formal terdiri atas :

a.kelompok komando yaitu kelompok  yang ditentukan oleh bagan organisasi dan melaksanakan tugas tugas rutin organisasi..

b.kelompok tugas yaitu suatu kelompok yang ditentukan oleh bagan organisasi dann melakukan tugas tugas rutin organisasi.

2.Kelompok informal

Adalah suatu  kelompok yang tidak bisa dibentuk secara formal  melalui struktur organisasi,tetapi muncul karena adanya kebutuhan dan kontak social.kelompok ini dibedakan menjadi:

a.kelompok persahabatan,yang dibentuk karena adanya kesamaan tentang suatu hal,seperti hobi,status perkawinan,jenis kelamin,latar belakang,pandangan politik dll.

b.kelompok kepentingan merupakan kelompok yang berafiliasi untuk mencapai sasaran yang sama.

C.FASE PEMBENTUKAN KELOMPOK

Terjadi atas beberapa fase sebagai berikut :

a.Forming (pembentukan)merupakan fase awal yaitu keadaan ketidakpastian akan tujuan, struktur, dan kepemimpinan kelompok harus dihadapi.fase ini berakhir pada saat para anggota mulai berfikir bahwa diri mereka adalah bagian dari sebuah kelompok.

b.Storing (merebut hati) fase ini dicirikan oleh adanya konflik intra kelompok.berakhir manakala memperoleh hierarki kepemimpinan yang relative jelas dalam kelompok.

c.Norming(pengaturan norma).menggambarkan adanya perkembangan hubungan dan kelompok menunjukan adanya kohesi(kepaduan).berakhir dengan adanya struktur kelompok yang solid dan perumusan yang benar diterima atas harapan serta perilaku kelompok.

d.Performing(melaksanakan).memperlihatkan fungsi kelompok berjalan dengan baik dan diterima oleh anggota.kelompok yang paling permanen fase ini merupakan fase terakhir dari fase perkembangan.

e.Anjourning(pengakhiran).merupakan fase terakhir yang ada pada kelompok yang bersifat temporer,yang didalamnya tidak lagi berkenan dengan pelaksannaan tugas-tugas,tetapi dengan berakhirnya rangkaian kegiatan.

1.Struktur Kelompok

Struktur yang membentuk perilaku anggotanya dan memungkinkan untuk menjelaskan dan meramalkan sebagian besar perilaku individu didalam kelompok maupun kinerja kelompok itu sendiri.Variabel struktur ini antara lain adalah kepemimpinan formal,peran,norma,status kelompok,ukuran kelompok,komposisi kelompok,dan tingkat kohesivitas(keerataan)kelompok.

a.Kepemimpinan Formal

Setiap kelompok kerja mempunyai pemimpin formal, orang ini umumnya mempunyai jabatan. Pemimpin ini dapat memainkan peran penting dalam keberhasilan kelompok.

b.Peran.

Peran disini adalah seperangkat pola perilaku yang diharapkan dimiliki seseorang  yang menduduki posisi tertentu. Pemahaman perilaku peran secara dramatis akan disederhanakan jika masing-masing dari kita memilih satu peran dan memainkannya secara teratur  dan konsisten. Salah satu tugas dalam memahami perilaku adalah memahami peran yang sedang dimainkan oleh seseorang.

Kelompok-kelompokyang berlainan memberlakukan persyaraatan peran yang berlainan pula bagi individu.

  1. Indetitas Peran. Sikap dan perilaku actual tertentu yang konsisten dengan peran bila mereka menyadari bahwa situasi dan tuntunannya jelas-jelas membutuhkan perubahan besar.
  2. Persepsi Peran. Pandangan mengenai bagaimana ia seharusnya bertindak dalam situasi tertentu disebut persepsi peran. Berdasarkan penafsiran di atas, persepsi peran adalah cara kita meyakini bagaimana seharusnya perilaku kita terlibat ke  dalam tipe-tipe perilaku tertentu.
  3. Pengharapan Pesan yaitu pengharapan peran didefinisikan sebagai bagaimana orang lain meyakini  tindakan Anda seharusnya dalam situasi tertentu. Pengharapan peran bermanfaat untuk memeriksa topic harapan melalu perspektif kontrak psikologis. Kontak psikologis ini menentukan harapan timbale balik yaitu apa yang duharapkan manajemen dari para pekerja dan sebaliknya.
  4. Konflik Peran. Apabila individu diharapkan pada pengharapan peran yang berlainan, terjadi konflik peran. Konflik ini muncul apabila individu menemukan bahwa  patuh pada tuntutan suatu peran menyebabkan dirinya mendapatkan kesulitan kesulitan mematuhi tuntutan peran lain.

2. Pengambilan keputusan kelompok.

Peninjauan ulang pengambilan keputusan kelompok.

  1. Kelompok lawan individu

Kelompok-kelompok pengambilan keputusan mungkin digunakan secara luas di dalam organisasi, tetapi apakah itu menyiratkan bahwa keputusan kelompok akan lebih disukai daripada keputusan yang diambil oleh individu, pertanyaan ini bergantung pada sejumlah factor.

  1. Kekuatan pengambilan keputusan kelompok.

 Kelompok  menghasilkan iinformasi dan pengetahuan yang lebih lengkap. Dengan menyatukan beberapa sumber daya dari beberapa individu, kita membawa lebih banyak masukan ked alam proses keputusan.

  1. Kelemahan pengambilan keputusan  kelompok

Pengambilan keputusan kelompok menghabiskan waktu  lebih banyak untuk mencapai pemecahan dibandingkan dalam kasus yang keputusannya di ambil dari seorang saja. Keputusan kelompok  dapat didominasi oleh  satu atau beberapa orang. Jika koalisi dominan ini terdiri atas anggota dengan kemampuan rendah atau sedang, efektivitas kelompok akan berkurang. Akhirnya, keputusan kelompok menjadi tidak efektive akibat tanggung jawab yang ambigu.

  1. Efektivitas dan efisiensi

Kelompok lebih efektive daripada individu bergantung pada criteria menurut criteria ketetapan (akurasi), keputusan kelompok cenderung lebih tepat akan tetapi, jika efektivitas keputusan didefinisikan menurut criteria kecepatan individu lebih unggul dan jika efektivitas berarti tingkat penerimaan yang dicapai oleh keputusan akhir, sekali lagi, kelompok lebih unggul.

Efektivitas  tidak dapat dinilai tanpa mempertimbangkan efisiensi. Menurut criteria  efesiensi, kelompok hamper selalu kalah telak dibandingkan pengambilan keputusan secara individual. Oleh karena itu, dalam memutuskan apakah menggunakan kelompok pertimbangan hendaknya ditumpahkan pada penilaian apakah peningkatan efektivitas lebih dari cukup sehingga mampu mengimbangi kerugian efisiensi.

 

D.PEMIKIRAN KELOMPOK DAN PERGESERAN KELOMPOK

Dua efek samping dari pengambilan keputusan kelompok kedua fenomena ini mempunyai potensi memengaruhi kemampuan kelompok untuk menilai alternatif-alternatif secara positif dan menghasilkan solusi keputusan yang berkualitas.

Fenomena yang pertama, yang disebut pikiran kelompok (groupthink), dikatakan dengan norma-norma  fenomena ini menggambarkan situasi ketika tekanan kelompok untuk kesesuaian menghalangi kelompok untuk menghargai secara kritis pandangan-pandangan yang tak biasa,minoritas,atau tak popular.pikiran kelompok jadi penyakit yang menyerang bayak kelompok dan dapat secara dramatis merintangi kinerjanya. Fenomena kedua yang kami tinjau ulang disebut pergeseran kelompok (groupshift). Fenomena ini mengindikasikan bahwa dalam membahas seperangkat alternatif dan mencapai pemecahan tertentu, para anggota kelompok cenderung membesar-besarkan posisi (pendirian) awal yang mereka anut.  

Pemikiran kelompok

Gejala-gejala fenomena pemikiran kelompok yaitu sebagai berikut :

1.Para anggota kelompok meronalisasi setiap penolakan terhadap asumi yang telah mereka ambil.

2.Para anggota menerapkan keraguan mereka yang mempertanyakan kesahihan argumea (validitas) yang di dukung oleh mayoritas.

3.Anggota yang meragukan atau yang mempunyai titik pandang yang berbeda berusaha menghindari penyimpangan consensus kelompok dengan tetap tidak mereka sendiri mengenai kurang pentingnya keraguan itu

4. terlihat ada ilusi (khayalan) atas aklamasi

E. Tim dalam Organisasi

1. Tim vs kelompok

Kelompok memiliki cirri-ciri sebagai berikut

  1. Anggota menganggap pengelompokan semata-mata untuk kepentingan administrative
  2. Anggota cenderung memerhatikan dirinya sendiri karena tidak dilibatkan dalam penetapan sasaran
  3. Anggota diperintahkan untuk mengerjakan pekerjaan, bukan di minta saran untuk mencapai sasaran yang terbaik
  4. Anggota tidak percaya pada motif rekan-rekan kerjanya  karena tidak memahami peran anggota lainnya.

 

  1.  Apabila menerima diklat yang memandai, penerapannya sangat dibatasi oleh pemimpin.
  2. Anggota berada dalam suatu konflik tanpa mengetahui sebab dan cara pemecahan masalahnya.
  3. Anggota didorong untuk ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan.

Ciri-ciri yang berkaitan dengan tim efektif, yaitu sebagai berikut.

  1. Anggota menyadari ketergantungan diantara mereka dan memahami bahwa sasaran pribadi maupun tim paling baik dicapai dengan cara saling mendukung.
  2. Anggota tim ikut merasa memiliki pekerjaan dan organisasinya
  3. Anggota memiliki kontribusi terhadap keberhasilan organisasi.
  4. Anggota bekerja saling percaya dan didorong untuk mengungkapkan ide, pendapat, ketidaksetujuan, serta mencetuskan perasaan secara terbuka
  5. Anggota menjalankan komunikasi dengan tulus.
  6. Para anggota didorong untuk menambah keterampilan dan menerapkanya dalam tim.
  7. Mereka menyadari bahwa konflik dalam tim merupakan hal yang wajar.
  8. Anggota berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi tim.
    1. 2.      Hakikat dan cirri-ciri organisasi sebagai tim

Tim dapat disimpulkan sebagai suatu kelompok yang memiliki ikatan dan interaksi yang harmonis  memacu terjadinya perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan pribadi maupun organisasi. Keikatan dan interaksi yang harmonis tersebut akan muncul dalam bentuk keterpaduan pola  (way of thinking), pola emosi dan motivasi (way of feeling), dan pola tindak ( way of action) (prajudi atmosoedirdjo,1989 ).masalah paling rawan dalam organisasi adalah apabila keinginan dan interes individu dalam organisasi saling berhadapan “menang-kalah” yaitu munculnya banyak vested-interest. Adapun ciri-ciri atau kondisi organisasi sebagai tim tidak akan berhasil apabila:

  1. desain visi, misi, dan strategi organisasi yang kurang imaginable,fesible, communicable;
  2. moral atau semangat tim rendah;
  3. conflict of interest pribadi merebak;
  4. kemampuan mental ( intelegensia,kreativitas ) rendah;
  5. seleksi kurang berhasil;
  6. kepribadian kurang dominan introvert atau ekstrovert;
  7. komposisi susunan tim yang kurang efektif;
  8. ketidakjelasan peran tim dan anggota-anggotannya;
  9. tertutup untuk dievaluasikan;
  10. pemberdayaan kurang efektif;

3.manfaat membangun tim efektif

Robert B.Maddux dalam bukunya tim bulding mengatakan bahwa manfaat membangun tim yang efektif adalah sebagai berikut.

Dengan adanya tim,sasaran yang realitas ditentukan dan dapat dicapai secara optimal,anggota tim dan pemimpin tim memiliki komitmen untuk saling mendukung satu sama lain agar berhasil,memahami proritas anggota lainnya,komunitas bersifat terbuka,pemecahan masalah lebih efektif ,upan balik kerja lebih memadai  karena anggota tim mengetahui apa yang diharapkan,konflik diterima sebagai hal yang wajar,keseimbangan tercapainya produktivitas dengan pemenuhan kebutuhan pribadi,tim dihargai atas hasil yang sangat baik,termotivasi untuk mengeluarkan ide ide, menyadari pentinggnya disiplin sebagai kebiasaan kerja,lebih berprestasi dalam kerja sama dengan tim lainnya.

Bahwa banyak keuntungan bekerja dalam tim dibandingkan dengan kerja individu pentingnya tim dalam mewujudkan kinerja organisasi,dalam kehidupan sehari-hari dapat dibentuk tim.

Berikut ini cirri-ciri yang efektif menurut WANDI S BRATA dan PIUS M.SUMAKTOYO:

a.Tim merupakan kumpulan orang yang bekerja sama dengan tujuan tertentu

b.suatu tim yang efektif anggota kelompok menerima bberbagai perbedaan dan sumbangan pemikiran serta masing-masing individu memiliki peran yang berdeda-beda

c.Pemecahan masalah dilaksanakan secara positif tanpa melibatkan kebencian individu

d.para anggota dan pemimpin tim besedia berbagai ilmu pengetahuan informasi dan keterampilan

e.apabila terjadi perbedaan pendapat mereka akan duduk bersama memecahkan permasalahan dengan kepala dingin dan memecahkan masalah secara terbuka

f.pembagian dan pendelgasian tanggung jawab bekerja secara mandiri,tetapi tetap dalam kerangka kerja sama

g.berbagai saran untuk memperbaiki kinerja organisasi diterima dengan baik walaupun berasal dari anggota tim

h.seluruh anggota tim tidak ragu-ragu mengambil inisiatif dan tindakan,tanpa merasa cemas.

 

F.KERJASAMA DALAM MEMBANGUN TIM EFEKTIF

1.Pengertian dan unsure unsure tim yang dinamis

Tim dinamis adalah tim yang memiliki kinerja yang sangat tinggi,tim yang dapat memanfaatkan segala energy yang ada dalam tim tersebut untuk menghasilkan sesuatu.

2.Manfaat membangun tim dinamis

a.Menyatakan secara jelas misi dan tujuan

Visi adalah gambaran akan datang yang merupakan cita-cita visi digambarkan dalam bentuk misi.Tujuan dan sasaran ini harus dipahami oleh seluruh anggota tim sebab hal ini akan meningkatkan komitmen diantara mereka.

 

b.Beroprasi secara kreatif

Pelaksanan kerja tim sangat kretif dan dinamis  dengan memperhitungkan resiko,mereka tidak takut menghadapi kegagalan dan mencari-cari peluang untuk mengimplementasikan teknik yang baru,bersikap luwes dan kreatif dalam memecahkan masalah-masalah.

c.Memfokuskan pada hasil

Tim yang dinamis mampu memberikan hasil yang melampaui kemampuan jumlah individu yang menjadi anggotanya,memenuhi komitmen waktu,anggaran produktivitas,dan mutu produktivitas optimum merupakan tujuan bersama.

d.Memperjelas peranan dan tanggung jawab

Peranan dan tanggung jawab anggota tim jelas ,tim yang dinamis selalu memperbaharui  peran dan tanggung jawab anggotanya sesuai dengan perubahan tuntunan,sasaran,dan teknologi.

e.Diorganisasikan dengan baik

Menjalankan fungsi-fungsi manajemen dengan baik menginventarisasikan jenis keterampilan yang dimiliki oleh para anggota tim nya.

f.Dibangun diatas kekuatan individu

Kopetensi individu sangat diperhatikan sehingga pimpinan tim memahami betul kekuatan dan kelemahan anggota timnya.

g.Saling mendukung kepemimpinan anggota lainnya

kepemimpinan dibagi antara para anggotanya.

h.Menggembangkan iklim tim

Tim yang berkinerja tinggi memiliki anggota yang secara antusias bekerja sama denakpastian gan tingkat ketrlibatan dan energy kelompok yang tinggi(bersinergi)

i.Menyelesaikan ketidakpastian

Perbedaan presepsi dan ketidakpastiian dan akan terjadi setiap tim.Konflik merupakan suatu wahana untuk hal-hal yang lebih positif konflik akan diselesaikan dengan pendekatan secara terbuka dengan teknik kolaborasi.

j.Berkomunikasi secara terbuka

Asersi yakni bicara yang lugas,jujur,tetapi tidak melukai pihak lain.

 

k.Membuat keputusan secara objektif

Pemecahan masalah digunakan pendekatan yang mantap dan proaktif.keputusan dicapai melalui consensus.Anggota kelompok bebas mengutarakan pendapat dan ide-idenya.

l.Mengevaluasi efektivitas sendiri

Evaluasi dilaksanakan secara terus menerus dengan tujuan melihat pelaksanaan rencana selama ini.

            3.Tahapan perkembangan tim

Tahapan perkembangan tersebut adalah sebagai berikut:

Menetapkan arah,Bergerak(strive),mempercepat gerak(thrive),sampai(arrive)

            4.Membangun rasa kebersamaan tim

Untuk membangun rasa kebersamaan di dalam suatu tim,setiap anggota kelompok harus mampu menerima keragaman anggota tim.tim akan efektif apabila dibangun berdasarkan kebersamaan,tidak memandang pangkat,saling menghargai,dan dilandasi oleh keterbukaan.penjabaran karaktrlistik RICARD Y. CHANG adalah berorientasi pada opini,berorientasi pada pemasaran, berorientasi pada tujuan,

Hal-hal yang harus diperhatikan adalah

a.meningkatkan umpan balik sesame anggota tim

b.memiliki komitmen untuk menyelesaikan konflik

c.bekerja sama untuk meningkatkan kreativitas dan menagani dalam pembuatan keputusan.

            5.Membangun pengembangan tim

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan tim agar anggota tim mampu membangun kebanggannya adalan sb:

a.Memotivasi anggota tim untuk berkomitmen

Dalam memotivasi ini,setiap individu memiliki motif yang berbeda-beda

b.Memotivasi anggota tim yang tidak termotivasi

Ada anggota tim yang produktif, ada juga yang enggan berpatisipasi secara aktif.diperlukan beberapa strategi yaitu dapatkan nasihat dari mereka,jadikan mereka sebagai guru, libatkan mereka dalam prestasi,dlegasikan kepada mereka proyek bintang. Hal lain perlu diperhatikan dalam membangun kerjasama tim adalah perlunya menningkatkan kerja sama tim yang efektif.Kunci utamanya adalah adanya komunikasi yang efektif(akan dibahas dalam mata sajian komunikasi uang efektif), mendengarkan secara aktif mampu memotivasi anggota tim,serta menyelesaikan konflik secara efektif.

About these ads

About jinkisyndrome

Trapped in The SHINee World | Cant take my eyes off Lee Jinki
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s