PERILAKU ORGANISASI BAB 3 DAN 4

BAB 3

DIMENSI-DIMENSI YANG TERDAPAT DALAM PERILAKU

DAN PEMBENTUKAN PERSONAL MEANING

A. Dimensi Persepsi

  1. 1.         Menjajaki pengertian persepsi

Persepsi dalam kamus diartikan sebagai proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus diperoleh dari proses pengindraan terhadap objek, pristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diperoleh oleh otak. Proses kognisi dimulai dari persepsi, melalui persepsilah manusia mandang dunianya. Apakah dunia terlihat berwarna, cerah, pucat, atau hitam, semuanya adalah persepsi manusia. Persepsi harus dibedakan dengan sensasi (sensation).

Jadi dapat dikatakan sensasi adalah proses manusia dalam menerima informasi sensoris (energi fisik dari lingkungan) melalui pengindraan dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal “neural” yang bermakna. Misalnya, ketika seseorang melihat (menggunakan indra visual “mata”) sebuah benda berwarna merah, ada gelombang cahaya dari benda itu yang ditangkap oleh organ mata, lalu diproses dan ditransformsikan menjadi sinyal-sinyal di otak, kemudian diinterpretasikan sebagai “warna merah”.

 

  1. 2.         Prinsip persepsi

Sebagian besar dari prinsip persepsi merupakan prinsip pengorganisasian berdasarkan teori Gestalt. Teori Gestalt percaya bahwa persepsi bukanlah hasil penjumlahan bagian yang diindra seseorang, tetapi lebih dari itu merupakan keseluruhan (the whole). Teori Gestalt menjabarkan beberapa prinsip yang dapat menjelaskan cara seseorang menata sensasi menjadi suatu bentuk persepsi.

Prinsip persepsi yang utama adalah prinsip figure and ground. Prinsip ini menggambarkan bahwa manusi secara sengaja maupun tidak, memilih dari serangkaian stimulus mana yang menjadi fokus atau bentuk utama (=figure) dan mana yang menjadi latar (=ground).

 

  1. 3.         Prinsip pengorganisasian persepsi

Beberapa prinsip pengorganisasian persepsi,

  1. Prinsip Proximity; seseorang cenderung memersepsi stimulus-stimulus yang berdekatan sebagai satu kelompok.
  2. Prinsip Similarity; seseorang cenderung memersepsikan stimulus yang aman sebagai satu kesatuan.
  3. Prinsip Continuty; prinsip ini menunjukan bahwa kerja otak manusia secara alamiah melakukan proses melengkapi informasi yang diterimanya walaupun sebenarnya stimulus tidak lengkap.

 

  1. Diterminasi persepsi

Disamping faktor-faktor teknis seperti kejelasan stimulus (misalnya suara yang jernih, gambar yang jelas), kekayaan sumber stimulus (misalnya, media multichennel, seperti audio-visual), persepsi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis. Faktor psikologis ini bahkan terkadang lebih menentukan bagaimana informasi (pesan/stimulus) dipersepsikan.

 

 

 

 

Faktor yang sangat dominan adalah faktor ekspektansi dari sipenerima informasi sendiri. Ekspektansi memberikan kerangka berpikir atau perceptual set atau mental set tertentu yang menyiapkan seseorang untuk memersepsi dengan cara tertentu. Mental set ini dipengaruhi oleh beberapa hal berikut,

  1. Ketersediaan informasi sebelumnya; ketiadaan informasi ketika seseorang menerima stimulus yang baru bagi dirinya akan menyebabkan kekacauan dalam memersepsi.
  2. Kebutuhan; seseorang cenderung memersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhannya saat ini.
  3. Pengalaman masa lalu; sebagai hasil dari proses belajar, pengalaman sangat memengaruhi cara seseorang memersepsikan sesuatu.

Faktor psikologis lain yang juga penting dalam persepsi,

1)      Emosi; memengaruhi seseorang dalam menerima dan mengolah informasi pada suatu saat karena sebagian energi dan perhatiannya (menjadi figure) adalah emosinya.

2)      Impresi; stimulus yang salient/menonjol, akan lebih dahulu memengaruhi persepsi seseorang.

3)      Konteks; walaupun disebutkan terakhir, tidak berarti faktor ini kurang penting, nahkan mungkin yang paling penting. Konteks bisa secara sosial, budaya, atau lingkungan fisik.

 

B. Dimensi Nilai

  1. 1.         Memahami nilai

Nilai mencerminkan keyakinan-keyakinan dasar bahwa “bentuk khusus perilaku atau bentuk akhir keberadaan secara pribadi atau sosial lebih dipilih dibandingkan dengan bentuk prilaku atau bentuk akhir keberadaan pelawanan atau kebalikan.” (Robbins, 2006). Nilai mengandung unsur pertimbangan yang mengemban gagasan-gagasan seorang individu mengenai apa yang benar, baik, atau diinginkan. Nilai mempunyai atribut isi dan intensitas.

 

  1. 2.         Pentingnya nilai

Nilai penting untuk mempelajari perilaku organisasi karena nilai menjadi dasar untuk memahami sikap dan motivasi, serta memengaruhi persepsi kita. Individu-individu memasuki organisasi dengan gagasan yang dikonsepkan sebelumnya mengenai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya.

 

  1. 3.         Tipe nilai

Milton Rokeach menciptakan Survei Nilai Rokeach (RVS). RVS terdiri atas dua perangkat nilai, dengan tiap perangkat berisi 18 butir nilai individu. Satu perangkat yang disebut nilai terminal, merujuk pada bentuk akhir keberadaan yang sangat diinginkan. Perangkat lain yang disebut nilai instrumental, merujuk pada bentuk perilaku atau upaya-upaya untuk mencapai nilai-nilai terminal yang lebih disukai oleh orang tertentu.

 

 

 

 

 

 

Nilai-nilai Terminal

Nilai-nilai Instrumental

  • Kehidupan yang nyaman (kehidupan yang makmur)
  • Kehidupan yang menarik (kehudupan yang memotivasi dan aktif)
  • Rasa pencapaian (kontribusi permanen)
  • Dunia dalam perdamaian (bebas dari peperangan dan konflik)
  • Dunia keindahaan (keindahan alam dan seni)
  • Kesetaraan (persaudaraan, peluang yang sama untuk semua)
  • Keamanan keluaga (merawat mereka yang dicintai)
  • Kebebasan (kemerdekaan, pilihan bebas)
  • Kebahagiaan (kepuasan)
  • Harmoni internal (kebebasan dari konflik internal)
  • Cinta yang matang (keintiman seksual dan spiritual)
  • Keamanan nasional (perlindungan dari serangan)
  • Kesenangan (kehidupan yang dapat dinikmati dan menyenangkan)
  • Keberkahan (kehidupan yang selamat dan abadi)
  • Kehormatan diri (harga diri)
  • Pengakuan nasional (kehormatan, kekaguman)
  • Persahabatan sejati (pertemanan dekat)
  • Kebijaksanaan (pemahaman matang tentang kehidupan)
    • Ambisius (pekerja keras, penuh harapan);

 

  • Berpandangan luas (berpikiran terbuka)

 

  • Berkemampuan (kompeten, efektif)
  • Cerai (ringan hati, suka cita)

 

  • Bersih (rapi, tertata)

 

  • Penuh keberanian (membela keyakinan-keyakinan anda)
  • Pema’af (bersedia memberi ma’af demi kebaikan orang lain)
  • Jujur (tulus, terbuka)
  • Imajinatif (penyayang, kreatif)
  • Independen (mengandalkan diri sendiri, kepuasan diri)
  • Intelektual (cerdas, reflektif)

 

  • Logis (konsisten, rasional)

 

  • Pencinta (penyayang, lembut)

 

  • Patuh (setia, penuh hormat)

 

  • Sopan (beradab, berprilaku baik)
  • Tanggung jawab (tempat bergantung, dapat diandalkan)
  • Pengendalian diri (terkendali, disiplin)

 

  1. 4.         Fungsi nilai

Fungsi utama nilai dapat dijelaskan sebagai berikut;

  1. Nilai sebagai standar (Rokeach, 1973; Schwartz, 1992, 1994)
  2. Sistem nilai sebagai rencana umum dalam memecahkan konflik dan pengambilan keputusan (Feather, 1995; Rokeach, 1973; Schwartz, 1992, 1994)
  3. Fungsi motivasional

Fungsi langsung nilai adalah fungsi mengarahkan tingkah laku individu dalam situasi sehari-hari, sedangkan fungsi tidak langsungnya adalah mengekspresikan kebutuhan dasar sehingga nilai dikatakan memiliki fungsi motivasional.

 

  1. 5.         Hubungan nilai dan tingkah laku

Dalam kehidupan manusia, nilai berperan sebagai standar yang mengarahkan tingkah laku. Nilai membimbing individu untuk memasuki suatu situasi dan cara individu bertingkah laku dalam situasi tersebut (Rokeach, 1973; Kahle dalam Homer & Kahle, 1988). Nilai juga menjadi kriteria yang dipegang oleh individu dalam memilih dan memutuskan sesuatu (Williams dalam Homer & Kahle, 1988).

Nilai juga merupakan salah satu komponen yang berperan dalam tingkah laku. Perubahan nilai dapat mengarahkan terjadinya perubahan tingkah laku. Perubahan nilai telah terbukti secara signifikan menyebabkan perubahan pula pada sikap dan tingkah laku memilih pekerjaan, merokok, mencontek, mengikuti aktivitas politik, pemilihan teman, ikutserta dalam aktifitas penegakan hak asasi manusia, membeli mobil, memilih aktivitas di waktu senggang, berhubungan dengan ras lain, menggunakan media massa, mengantisipasi penggunaan media, dan orientasi politik (Horner & Kahle, 1988).

 

  1. 6.         Pengukuran nilai

Selama ini pengukuran nilai didasarkan pada hasil evaluasi diri yang dilaporkan oleh individu ke dalam suatu skala pengukuran (misalnya Rokeach value survey, Schwartz value survey). Evaluasi diri membutuhkan pemahaman kognitif maupun afektif terhadap diri sendiri, termasuk untuk membedakan antara nilai ideal normatif dan nilai faktual yang ada saat ini.

Cara lain yang digunakan unuk mengetahui nilai individu adalah dengan teknik wawancara. Teknik ini telah digunakan oleh Rokeach (1973) untuk menggali nilai-nilai apa saja yang dimiliki seseorang.

Berdasarkan teori yang telah diuraikan sebelumnya, nilai-nilai seseorang akan tampak dalam beberapa indikator berikut;

  1. Pernyataan tentang keinginan-keinginan, prinsip hidup, dan tujuan hidup seseorang.
  2. Tingkah laku subjek dalam kehidupannya sehari-hari.
  3. Fungsi nilai dalam memotivasi tingkah laku.
  4. Salah satu fungsi nilai adalah dalam memecahkan konflik dan mengambil keputusan.
  5. Fungsi nilai dari nilai adalah membimbing individu dalam mengambil posisi tertentu dalam suatu topik sosial tertentu dan mengevaluasinya.

C. Dimensi Sikap

1. Pengertian Sikap

Sikap adalah pernyataan-pernyataan evaluative, baik yang diinginkan atau yang tidak diinginkan mengenai objek, orang, atau peristiwa. Sikap mencerminkan cara seseorang merasakan sesuatu.

2. Tipe-tipe Sikap

            Sebagian besar penelitian dalam OB telah terfokus pada tiga sikap, yaitu:

  1. Kepuasan kerja. Istilah ini merujuk pada sikap umum individu terhadap pekerjaannya. Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja tinggi menunjukan sikap yang positif terhadap kerja itu, seseorang yang tak puas dengan pekerjaannya menunjukan sikap negatife terhadap pekerjaan itu.
  2. Keterlibatan kerja. Yaitu bahwa keterlibatan kerja mengukur derajat seseorang secara psikologis mengertikan dirinya pekerjaannya dan menganggap tingkat kinerjanya sebagai hal penting bagi harga diri.
  3. Komitmen pada organisasi. Sikap tersebut didefinisikan sebagai keadaan karyawanyang mengaitkan dirinya pada organisasi tertentu dan sasaran-sasarannya, serta berharap memperhatikan keanggotaan dalam organisasi itu. Dengan demikian, keterlibatan kerja yang tinggi, berarti mengaitkan diri pada pekerjaan khusus seseorang, sedangkan komitmen pada organisasi yag tinggi berarti mengaitkan diri pada organisasi yang mempekerjakannya.

 

3. Sikap dan Konsistensi

Penelitian umumnya menyimpulkan bahwa orang-orang mengusahakan konsistensi diantara sikap-sikapnya serta antara sikap dan prilakunya. Ini berarti bahwa individu-individu berusaha menyatukan sikap-sikap yang berpisah dan memadukan sikap dan prilaku mereka sehingga tampak rasional dan konsisten. Jika terjadi ketidakkonsistenan, digunakanlah kekuatan untuk mengendalikan individu itu pada keseimbangan, yaitu sikap dan prilaku kembali konsisten.

 

D. Personal Meaning

            Frankl (dalam wiebe, 2001) memandang bahwa seseorang yang memiliki personal meaning yang positif (fulfillment of personal meaning) dalam kehidupan, ia akan berkontribusi pada harapan serta bersikap optimisme dan menghargai terjadinya suatu masa buruk dalam siklus kehidupan.

Frankl (dalam wiebe 2001) berkeyakinan bahwa meaningfulness (kebermaknaan) dalam hidup, berhubungan dengan self esteem yang tinggi dan prilaku yang murah hati terhadap orang lain, sedangkan meaningless (ketidakbermaknaan) dalm hidup berasosiasi dengan ketidak pedulian atau melepaskan diri (diengageement).

  1. 1.      Personal meaning dalam beberapa persepektif
  2. Persepektif Relatifitas

Dalam penelitiannya tersebut battista dan almond menemukan 4 hal yang biasa di temukan yang berhubungan degan personal meaning yaitu sebgai berikut :

  1. Orang yang percaya bahwa hidupnya bermakna secara positif pasti menyakini konsep0konsep tertentu, seperti humanistic, religiusitas, atau idiosyncratic yang berhubungan dengan makna kehidupan.
  2. Konsep meaning yang mereka yakini memunculkan kekonsistensian mereka untuk mencapai arah dan tujuan hidup mereka.
  3. Orang yang percaya bahwa hidup mereka bermakna entah hidup mereka sudah bermakna atau mereka yang masih berusaha mencapai tujuan hidupnya.
  4. Dalam proses mencapai tujuan hidup yang mereka buat dalam diri seseorang, akan muncul perasaan signifikan pada diri mereka sendiri dan rasa bangga terhadap kehidupan mereka.
  5. Persepektif Eksistensial

Tujuan pokok humanism-eksistensialis adalah keselamatan dan kesempurnaan manusia.

  1.  persepektif eksistensial Sartre

pandangan sarte mebgenai eksistensialisme sebagai humanism adalah ajaran yang menghargai kehidupan manusia, dan mengajarkan bahwa setiap kebenaran dan tindakan mengandung keterkibatan lingkungan dan subjektifitas manusia (Sartre dalam soejadi, 2001). Sartre berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan, kemerdekaan, dan merupakan makhluk pribadi yang otonom.

  1. Persefektif eksistensial omoregbe

Omoregbe (dalam soejadi,2001) mengatakan implikasinya dalam sikap dan tindakan humanis, bahwa kebebasan manusia, menurut Sartre memberikan dan membawa jalan keluar yang pundamental untuk mentransindensi atas dunia, menumbuhkan semangat keberanian manusia untuk berbuat lebih kreatif dan progresif dalam usaha meraih hidup yang lebih tinggi, member peluang kepada setiap pribadi manusia untuk mengemabngkan diri.

2.Definisi Meaning dan Personal Meaning

a. Definisi Meaning Menurut Maslow

  Maslow (dalam wiebe,2001) mengatakan bahwa meaning di alami dari aktualisasi diri, individu yang termotifasi untuk mngetahui alas an atau maksud dari keberadaan dirinya.

  1. Definisi Meaning Menurut Baumeister

Baumeister (1991) mengatakan bahwa meaning mengandung beberapa bagian kepercayaan yang saling berhubungan antara benda, kejadian, dan hubungan.

  1. Definisi Meaning Menurut Frankl

Frankl ( dalam wiebe, 2001) mengonsepkan meaning sebagai pengalaman dalam merespons tuntutan dalam kehidupan, menjelajahi dan meyakini adanya tugas unik dalam kehidupannya, dan membiarkan dirinya mengalami atau meyakini keseluruhan meaning.

  1. Definisi Personal Meaning Menurut Reker

Menurut Reker, personal meaning adalah memiliki tujuan hidup, memiliki arah, merasa memiliki kewajiban dan alas an untuk ada (eksis), identitas diri yang jelas, dan kesadaran social yang tinggi.

 

 

3.Dimensi Meaning

a. Structural Components (Komponen Stuktural)

1. Komponen Kognitif

Kompnen kognitif diartikan sebagai system keyakinan individu dan pandangan menyeluruh yang telah terbangun dalam konteks budaya yang spesifik dan dipengaruhi oleh pengalaman kehidupan individu yang unik.

2.Komponen Motifasional

Komponen motifasional adalah system nilai yang dibangun pada setiap individu. Nilai adalah pedoman kehidupan, yang mengarahkan pada tuujuan yang harus dicapai oleh seseorang, dan cara mencapai tujuan tersebut, nilai ditentukan oleh kebutuhan individu, kepercayaan, dan masyarakat.

3.Komponen Efektif

Komponen efektif terdiri atas rasa puas ( satisfaction) dan pemenuhan atau perasaan terpenuhi (fulfillment) individu yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman dan keberhasilan mencapai tujuan individu tersebut.

 

 

4.Komponen Personal dan Social(Reconditions of Meaning)

Recondition of meaning terdiri atas hubungan social dan kualifikasi personal. Komponen social terdiri atas hubungan personal, cinta, dan empati. Komponen personal terdiri atas kualitas unik pada individual, atribut personal (seperti menjadi kreatif, fleksibel, adaktif, intelektuel, memiliki rasa ingin tahu, dan bertanggung jwab), yang mempengaruhi personal meaning.

b.Sources of Meaning (Sumber Meaning)

Sumber meaning, yaitu isi area-area yang berbeda atau tema personal yang dialami meaning.darimanameaning berasal? Nilai dan kepercayaan adalah landasan kuat dari sumber meaning. Nilai didefinisikan sebagai konstruk yang melebihi situasi spesifik, dan nilai lebih disukai secara personal dan social.

 

4.Breadth of Meaning

Breadth of meaning adalah kecenderungan individu untuk mengalami atau memperoleh meaning dari beberapa sumber yang berbeda. Reker dan Wong (dalam Reker dan Camberline, 2000) menyatakan bahwa individual: (a). akan mengalami meaning dari beberapa sumber yang berbeda, (b). semakin banyak sumber meaning yang dimiliki, semakin mengarahkan individu tersebut pada rasa pemenuhan (fulfillment) yang lebih besar.

 

5.Depth of Meaning

Depth of meaning menunjukan kualitas pengalaman meaning individu. Apakah pengalaman meaning individu tersebut dangkal, dalam, atau hanya sebagian? Menurut Reker dan Wong (dalam reker dan camberline, 2000), ada empat level depth yang menunjukan tingkat meaning yang dialami individu. Keempat level ini depth ini dikategorikan menjadi self-preoccupation dengan kesenangan kenyamanan (level 1), pengabdian waktu dan tenaga untuk mewujudkan potensi diri (level 2), pelayanan bagi orang lain dan komitmen terhadap lingkup social yang lebih luas, atau alas an politis(level 3), dan nilai yang menyenangkan yang melebihi arti individu dan meliputi alam semesta, dan tujuan akhir kehidupan (level 4).

 

6. Proses Penghayatan Hidup Tak Bermakna Menjadi Lebih Bermakna Atau Penemuan Personal Meaning.

Basstman (1996) melihat proses makna hidup seseorang dalam suatu proses yang merupakan urutan pengalaman dari penghayatan hidup tak bermakna menjadi lebih bermakna, atau berdasarkan definisi reker disebut proses penemuan personal meaning


 

BAB 4

KELOMPOK DAN TIM DALAM ORGANISASI

 

A.DEFINISI KELOMPOK

Klompok didefinisikan sebagai dua individu atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung untuk mencapai tujuan tertentu.

2 Alasan seseorang bergabung dengan kelompok :

1.Untuk mencapai tujuan apabila dlakukan sendiri tujuan itu tidak tercapai

2.Dalam kelompok,kebutuhan seseorang dapat terpuaskan dan mendapat reward social,seperti rasa bangga,rasa dimiliki,cinta,pertemanan dsb.

Brainstorming dalam mengambil keputusan kelompok efektif apabila anggota kelompok 5-15 orang

Kohesivitas kelompok merupakan derajat yang anggota kelompoknya  saling menyukai,memiliki tujuan yang sama,ingin slalu mendambakan kehadiran anggota lainnya.

Kelompok dapat disimpulkan  bahwa kelompok adalah suatu unit yang terdiri atas sekelompok/sekumpulan dua orang atau lebih yang satu sama lain berinteraksi dalam mencapai suatu tujuan yang  telah ditetapkan  secara bersama-sama dalam suatu wadah tertentu.

Kelompok formal adalah kelompok yang ditetapkan berdasarkan struktur organisasi dengan penugasan kerja yang ditentukan.adapun kelompok Informal adalah persekutuan yang tidak terstruktur secara formal dan tidak ditetapkan secara organisasi.

B.KLASIFIKASI KELOMPOK

1.Kelompok Formal

Adalah kelompok yang sengaja dibentuk dengan keputusan manajer melalui suatu bagan organisasi untuk menyelesaikan tugas secara efektif  dan efesien.kelompok formal terdiri atas :

a.kelompok komando yaitu kelompok  yang ditentukan oleh bagan organisasi dan melaksanakan tugas tugas rutin organisasi..

b.kelompok tugas yaitu suatu kelompok yang ditentukan oleh bagan organisasi dann melakukan tugas tugas rutin organisasi.

2.Kelompok informal

Adalah suatu  kelompok yang tidak bisa dibentuk secara formal  melalui struktur organisasi,tetapi muncul karena adanya kebutuhan dan kontak social.kelompok ini dibedakan menjadi:

a.kelompok persahabatan,yang dibentuk karena adanya kesamaan tentang suatu hal,seperti hobi,status perkawinan,jenis kelamin,latar belakang,pandangan politik dll.

b.kelompok kepentingan merupakan kelompok yang berafiliasi untuk mencapai sasaran yang sama.

C.FASE PEMBENTUKAN KELOMPOK

Terjadi atas beberapa fase sebagai berikut :

a.Forming (pembentukan)merupakan fase awal yaitu keadaan ketidakpastian akan tujuan, struktur, dan kepemimpinan kelompok harus dihadapi.fase ini berakhir pada saat para anggota mulai berfikir bahwa diri mereka adalah bagian dari sebuah kelompok.

b.Storing (merebut hati) fase ini dicirikan oleh adanya konflik intra kelompok.berakhir manakala memperoleh hierarki kepemimpinan yang relative jelas dalam kelompok.

c.Norming(pengaturan norma).menggambarkan adanya perkembangan hubungan dan kelompok menunjukan adanya kohesi(kepaduan).berakhir dengan adanya struktur kelompok yang solid dan perumusan yang benar diterima atas harapan serta perilaku kelompok.

d.Performing(melaksanakan).memperlihatkan fungsi kelompok berjalan dengan baik dan diterima oleh anggota.kelompok yang paling permanen fase ini merupakan fase terakhir dari fase perkembangan.

e.Anjourning(pengakhiran).merupakan fase terakhir yang ada pada kelompok yang bersifat temporer,yang didalamnya tidak lagi berkenan dengan pelaksannaan tugas-tugas,tetapi dengan berakhirnya rangkaian kegiatan.

1.Struktur Kelompok

Struktur yang membentuk perilaku anggotanya dan memungkinkan untuk menjelaskan dan meramalkan sebagian besar perilaku individu didalam kelompok maupun kinerja kelompok itu sendiri.Variabel struktur ini antara lain adalah kepemimpinan formal,peran,norma,status kelompok,ukuran kelompok,komposisi kelompok,dan tingkat kohesivitas(keerataan)kelompok.

a.Kepemimpinan Formal

Setiap kelompok kerja mempunyai pemimpin formal, orang ini umumnya mempunyai jabatan. Pemimpin ini dapat memainkan peran penting dalam keberhasilan kelompok.

b.Peran.

Peran disini adalah seperangkat pola perilaku yang diharapkan dimiliki seseorang  yang menduduki posisi tertentu. Pemahaman perilaku peran secara dramatis akan disederhanakan jika masing-masing dari kita memilih satu peran dan memainkannya secara teratur  dan konsisten. Salah satu tugas dalam memahami perilaku adalah memahami peran yang sedang dimainkan oleh seseorang.

Kelompok-kelompokyang berlainan memberlakukan persyaraatan peran yang berlainan pula bagi individu.

  1. Indetitas Peran. Sikap dan perilaku actual tertentu yang konsisten dengan peran bila mereka menyadari bahwa situasi dan tuntunannya jelas-jelas membutuhkan perubahan besar.
  2. Persepsi Peran. Pandangan mengenai bagaimana ia seharusnya bertindak dalam situasi tertentu disebut persepsi peran. Berdasarkan penafsiran di atas, persepsi peran adalah cara kita meyakini bagaimana seharusnya perilaku kita terlibat ke  dalam tipe-tipe perilaku tertentu.
  3. Pengharapan Pesan yaitu pengharapan peran didefinisikan sebagai bagaimana orang lain meyakini  tindakan Anda seharusnya dalam situasi tertentu. Pengharapan peran bermanfaat untuk memeriksa topic harapan melalu perspektif kontrak psikologis. Kontak psikologis ini menentukan harapan timbale balik yaitu apa yang duharapkan manajemen dari para pekerja dan sebaliknya.
  4. Konflik Peran. Apabila individu diharapkan pada pengharapan peran yang berlainan, terjadi konflik peran. Konflik ini muncul apabila individu menemukan bahwa  patuh pada tuntutan suatu peran menyebabkan dirinya mendapatkan kesulitan kesulitan mematuhi tuntutan peran lain.

2. Pengambilan keputusan kelompok.

Peninjauan ulang pengambilan keputusan kelompok.

  1. Kelompok lawan individu

Kelompok-kelompok pengambilan keputusan mungkin digunakan secara luas di dalam organisasi, tetapi apakah itu menyiratkan bahwa keputusan kelompok akan lebih disukai daripada keputusan yang diambil oleh individu, pertanyaan ini bergantung pada sejumlah factor.

  1. Kekuatan pengambilan keputusan kelompok.

 Kelompok  menghasilkan iinformasi dan pengetahuan yang lebih lengkap. Dengan menyatukan beberapa sumber daya dari beberapa individu, kita membawa lebih banyak masukan ked alam proses keputusan.

  1. Kelemahan pengambilan keputusan  kelompok

Pengambilan keputusan kelompok menghabiskan waktu  lebih banyak untuk mencapai pemecahan dibandingkan dalam kasus yang keputusannya di ambil dari seorang saja. Keputusan kelompok  dapat didominasi oleh  satu atau beberapa orang. Jika koalisi dominan ini terdiri atas anggota dengan kemampuan rendah atau sedang, efektivitas kelompok akan berkurang. Akhirnya, keputusan kelompok menjadi tidak efektive akibat tanggung jawab yang ambigu.

  1. Efektivitas dan efisiensi

Kelompok lebih efektive daripada individu bergantung pada criteria menurut criteria ketetapan (akurasi), keputusan kelompok cenderung lebih tepat akan tetapi, jika efektivitas keputusan didefinisikan menurut criteria kecepatan individu lebih unggul dan jika efektivitas berarti tingkat penerimaan yang dicapai oleh keputusan akhir, sekali lagi, kelompok lebih unggul.

Efektivitas  tidak dapat dinilai tanpa mempertimbangkan efisiensi. Menurut criteria  efesiensi, kelompok hamper selalu kalah telak dibandingkan pengambilan keputusan secara individual. Oleh karena itu, dalam memutuskan apakah menggunakan kelompok pertimbangan hendaknya ditumpahkan pada penilaian apakah peningkatan efektivitas lebih dari cukup sehingga mampu mengimbangi kerugian efisiensi.

 

D.PEMIKIRAN KELOMPOK DAN PERGESERAN KELOMPOK

Dua efek samping dari pengambilan keputusan kelompok kedua fenomena ini mempunyai potensi memengaruhi kemampuan kelompok untuk menilai alternatif-alternatif secara positif dan menghasilkan solusi keputusan yang berkualitas.

Fenomena yang pertama, yang disebut pikiran kelompok (groupthink), dikatakan dengan norma-norma  fenomena ini menggambarkan situasi ketika tekanan kelompok untuk kesesuaian menghalangi kelompok untuk menghargai secara kritis pandangan-pandangan yang tak biasa,minoritas,atau tak popular.pikiran kelompok jadi penyakit yang menyerang bayak kelompok dan dapat secara dramatis merintangi kinerjanya. Fenomena kedua yang kami tinjau ulang disebut pergeseran kelompok (groupshift). Fenomena ini mengindikasikan bahwa dalam membahas seperangkat alternatif dan mencapai pemecahan tertentu, para anggota kelompok cenderung membesar-besarkan posisi (pendirian) awal yang mereka anut.  

Pemikiran kelompok

Gejala-gejala fenomena pemikiran kelompok yaitu sebagai berikut :

1.Para anggota kelompok meronalisasi setiap penolakan terhadap asumi yang telah mereka ambil.

2.Para anggota menerapkan keraguan mereka yang mempertanyakan kesahihan argumea (validitas) yang di dukung oleh mayoritas.

3.Anggota yang meragukan atau yang mempunyai titik pandang yang berbeda berusaha menghindari penyimpangan consensus kelompok dengan tetap tidak mereka sendiri mengenai kurang pentingnya keraguan itu

4. terlihat ada ilusi (khayalan) atas aklamasi

E. Tim dalam Organisasi

1. Tim vs kelompok

Kelompok memiliki cirri-ciri sebagai berikut

  1. Anggota menganggap pengelompokan semata-mata untuk kepentingan administrative
  2. Anggota cenderung memerhatikan dirinya sendiri karena tidak dilibatkan dalam penetapan sasaran
  3. Anggota diperintahkan untuk mengerjakan pekerjaan, bukan di minta saran untuk mencapai sasaran yang terbaik
  4. Anggota tidak percaya pada motif rekan-rekan kerjanya  karena tidak memahami peran anggota lainnya.

 

  1.  Apabila menerima diklat yang memandai, penerapannya sangat dibatasi oleh pemimpin.
  2. Anggota berada dalam suatu konflik tanpa mengetahui sebab dan cara pemecahan masalahnya.
  3. Anggota didorong untuk ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan.

Ciri-ciri yang berkaitan dengan tim efektif, yaitu sebagai berikut.

  1. Anggota menyadari ketergantungan diantara mereka dan memahami bahwa sasaran pribadi maupun tim paling baik dicapai dengan cara saling mendukung.
  2. Anggota tim ikut merasa memiliki pekerjaan dan organisasinya
  3. Anggota memiliki kontribusi terhadap keberhasilan organisasi.
  4. Anggota bekerja saling percaya dan didorong untuk mengungkapkan ide, pendapat, ketidaksetujuan, serta mencetuskan perasaan secara terbuka
  5. Anggota menjalankan komunikasi dengan tulus.
  6. Para anggota didorong untuk menambah keterampilan dan menerapkanya dalam tim.
  7. Mereka menyadari bahwa konflik dalam tim merupakan hal yang wajar.
  8. Anggota berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi tim.
    1. 2.      Hakikat dan cirri-ciri organisasi sebagai tim

Tim dapat disimpulkan sebagai suatu kelompok yang memiliki ikatan dan interaksi yang harmonis  memacu terjadinya perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan pribadi maupun organisasi. Keikatan dan interaksi yang harmonis tersebut akan muncul dalam bentuk keterpaduan pola  (way of thinking), pola emosi dan motivasi (way of feeling), dan pola tindak ( way of action) (prajudi atmosoedirdjo,1989 ).masalah paling rawan dalam organisasi adalah apabila keinginan dan interes individu dalam organisasi saling berhadapan “menang-kalah” yaitu munculnya banyak vested-interest. Adapun ciri-ciri atau kondisi organisasi sebagai tim tidak akan berhasil apabila:

  1. desain visi, misi, dan strategi organisasi yang kurang imaginable,fesible, communicable;
  2. moral atau semangat tim rendah;
  3. conflict of interest pribadi merebak;
  4. kemampuan mental ( intelegensia,kreativitas ) rendah;
  5. seleksi kurang berhasil;
  6. kepribadian kurang dominan introvert atau ekstrovert;
  7. komposisi susunan tim yang kurang efektif;
  8. ketidakjelasan peran tim dan anggota-anggotannya;
  9. tertutup untuk dievaluasikan;
  10. pemberdayaan kurang efektif;

3.manfaat membangun tim efektif

Robert B.Maddux dalam bukunya tim bulding mengatakan bahwa manfaat membangun tim yang efektif adalah sebagai berikut.

Dengan adanya tim,sasaran yang realitas ditentukan dan dapat dicapai secara optimal,anggota tim dan pemimpin tim memiliki komitmen untuk saling mendukung satu sama lain agar berhasil,memahami proritas anggota lainnya,komunitas bersifat terbuka,pemecahan masalah lebih efektif ,upan balik kerja lebih memadai  karena anggota tim mengetahui apa yang diharapkan,konflik diterima sebagai hal yang wajar,keseimbangan tercapainya produktivitas dengan pemenuhan kebutuhan pribadi,tim dihargai atas hasil yang sangat baik,termotivasi untuk mengeluarkan ide ide, menyadari pentinggnya disiplin sebagai kebiasaan kerja,lebih berprestasi dalam kerja sama dengan tim lainnya.

Bahwa banyak keuntungan bekerja dalam tim dibandingkan dengan kerja individu pentingnya tim dalam mewujudkan kinerja organisasi,dalam kehidupan sehari-hari dapat dibentuk tim.

Berikut ini cirri-ciri yang efektif menurut WANDI S BRATA dan PIUS M.SUMAKTOYO:

a.Tim merupakan kumpulan orang yang bekerja sama dengan tujuan tertentu

b.suatu tim yang efektif anggota kelompok menerima bberbagai perbedaan dan sumbangan pemikiran serta masing-masing individu memiliki peran yang berdeda-beda

c.Pemecahan masalah dilaksanakan secara positif tanpa melibatkan kebencian individu

d.para anggota dan pemimpin tim besedia berbagai ilmu pengetahuan informasi dan keterampilan

e.apabila terjadi perbedaan pendapat mereka akan duduk bersama memecahkan permasalahan dengan kepala dingin dan memecahkan masalah secara terbuka

f.pembagian dan pendelgasian tanggung jawab bekerja secara mandiri,tetapi tetap dalam kerangka kerja sama

g.berbagai saran untuk memperbaiki kinerja organisasi diterima dengan baik walaupun berasal dari anggota tim

h.seluruh anggota tim tidak ragu-ragu mengambil inisiatif dan tindakan,tanpa merasa cemas.

 

F.KERJASAMA DALAM MEMBANGUN TIM EFEKTIF

1.Pengertian dan unsure unsure tim yang dinamis

Tim dinamis adalah tim yang memiliki kinerja yang sangat tinggi,tim yang dapat memanfaatkan segala energy yang ada dalam tim tersebut untuk menghasilkan sesuatu.

2.Manfaat membangun tim dinamis

a.Menyatakan secara jelas misi dan tujuan

Visi adalah gambaran akan datang yang merupakan cita-cita visi digambarkan dalam bentuk misi.Tujuan dan sasaran ini harus dipahami oleh seluruh anggota tim sebab hal ini akan meningkatkan komitmen diantara mereka.

 

b.Beroprasi secara kreatif

Pelaksanan kerja tim sangat kretif dan dinamis  dengan memperhitungkan resiko,mereka tidak takut menghadapi kegagalan dan mencari-cari peluang untuk mengimplementasikan teknik yang baru,bersikap luwes dan kreatif dalam memecahkan masalah-masalah.

c.Memfokuskan pada hasil

Tim yang dinamis mampu memberikan hasil yang melampaui kemampuan jumlah individu yang menjadi anggotanya,memenuhi komitmen waktu,anggaran produktivitas,dan mutu produktivitas optimum merupakan tujuan bersama.

d.Memperjelas peranan dan tanggung jawab

Peranan dan tanggung jawab anggota tim jelas ,tim yang dinamis selalu memperbaharui  peran dan tanggung jawab anggotanya sesuai dengan perubahan tuntunan,sasaran,dan teknologi.

e.Diorganisasikan dengan baik

Menjalankan fungsi-fungsi manajemen dengan baik menginventarisasikan jenis keterampilan yang dimiliki oleh para anggota tim nya.

f.Dibangun diatas kekuatan individu

Kopetensi individu sangat diperhatikan sehingga pimpinan tim memahami betul kekuatan dan kelemahan anggota timnya.

g.Saling mendukung kepemimpinan anggota lainnya

kepemimpinan dibagi antara para anggotanya.

h.Menggembangkan iklim tim

Tim yang berkinerja tinggi memiliki anggota yang secara antusias bekerja sama denakpastian gan tingkat ketrlibatan dan energy kelompok yang tinggi(bersinergi)

i.Menyelesaikan ketidakpastian

Perbedaan presepsi dan ketidakpastiian dan akan terjadi setiap tim.Konflik merupakan suatu wahana untuk hal-hal yang lebih positif konflik akan diselesaikan dengan pendekatan secara terbuka dengan teknik kolaborasi.

j.Berkomunikasi secara terbuka

Asersi yakni bicara yang lugas,jujur,tetapi tidak melukai pihak lain.

 

k.Membuat keputusan secara objektif

Pemecahan masalah digunakan pendekatan yang mantap dan proaktif.keputusan dicapai melalui consensus.Anggota kelompok bebas mengutarakan pendapat dan ide-idenya.

l.Mengevaluasi efektivitas sendiri

Evaluasi dilaksanakan secara terus menerus dengan tujuan melihat pelaksanaan rencana selama ini.

            3.Tahapan perkembangan tim

Tahapan perkembangan tersebut adalah sebagai berikut:

Menetapkan arah,Bergerak(strive),mempercepat gerak(thrive),sampai(arrive)

            4.Membangun rasa kebersamaan tim

Untuk membangun rasa kebersamaan di dalam suatu tim,setiap anggota kelompok harus mampu menerima keragaman anggota tim.tim akan efektif apabila dibangun berdasarkan kebersamaan,tidak memandang pangkat,saling menghargai,dan dilandasi oleh keterbukaan.penjabaran karaktrlistik RICARD Y. CHANG adalah berorientasi pada opini,berorientasi pada pemasaran, berorientasi pada tujuan,

Hal-hal yang harus diperhatikan adalah

a.meningkatkan umpan balik sesame anggota tim

b.memiliki komitmen untuk menyelesaikan konflik

c.bekerja sama untuk meningkatkan kreativitas dan menagani dalam pembuatan keputusan.

            5.Membangun pengembangan tim

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan tim agar anggota tim mampu membangun kebanggannya adalan sb:

a.Memotivasi anggota tim untuk berkomitmen

Dalam memotivasi ini,setiap individu memiliki motif yang berbeda-beda

b.Memotivasi anggota tim yang tidak termotivasi

Ada anggota tim yang produktif, ada juga yang enggan berpatisipasi secara aktif.diperlukan beberapa strategi yaitu dapatkan nasihat dari mereka,jadikan mereka sebagai guru, libatkan mereka dalam prestasi,dlegasikan kepada mereka proyek bintang. Hal lain perlu diperhatikan dalam membangun kerjasama tim adalah perlunya menningkatkan kerja sama tim yang efektif.Kunci utamanya adalah adanya komunikasi yang efektif(akan dibahas dalam mata sajian komunikasi uang efektif), mendengarkan secara aktif mampu memotivasi anggota tim,serta menyelesaikan konflik secara efektif.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PERILAKU ORGANISASI BAB 1 DAN 2

BAB 1

ORGANISASI, PERILAKU ORGANISASI SOSIAL

 

  1. A.    Pendahuluan

Manusia sebagai mahluk hidup sosial yang selalu mencoba berinteraksi, akan selalu menemukan masalah – masalah. Namun, berbagai masalah dalam berinteraksi, baik antar individu, antar individu dan kelompok, atau interaksi antar kelompok akan dapat diminimalisasi dengan mengetahui prilaku individu dan kelompok yang menjadi lawan dalam berinteraksi.

Adapun organisasi sebagai satu kelompok yang mempunyai tujuan tertentu, secara mutlak akan di pengaruhi oleh prilaku – prilaku, baik dari internal organisasi tersebut atau dari pihak eksternal. Ilmu prilaku organisasi telah menjelema sebagi satu cabang ilmu sosial yang memberikan satu tahapan penting dalam menempatkan seseorang menjadi individu yang pantas sebagai seorang menjadi individu yang pantas sebagai seorang leader atau penentu dalam kata laksana organisasi.

 

  1. B.     ORGANISASI
    1. 1.      Definisi organisasi

Organisasi berasal kata organ dalam bahasa Yunani yang berate alat. Pengertian organisasi telah banyak di sampaikan para ahli. Dan pada dasarnya tidak ada perbedaan yang prinsip. Sebagai bahan perbandingan, berikut ini adalah sebagai pendapat mereka.

  1. Cheser I. Brnard (1938), dalam bukunya “ The Exsekutive Functions”, mengemukakan bahwa “Organisasi adalah system kerja sama antara dua orang tua atau lebih” ( organization as a system of cooveratives of two more persons)
  2. Menurut Dimock, “Organization is the syistematic bringing together of interdependen part to form a unified whole throught which autorit, coordination and control may exercised  to achive a given purpose”  ( Organisasi adalah perpaduan secara sistematis bagian – bagian yang saling bergantungan / berkaitan untuk membentuk suatu kesatuan yang bulat melalui kewenangan, koordinasi , dan pengawasan dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditentukan).

Berdsarkan defenisi tersebut ,dapat disimpulkan bahwa kumpulan orang dapat dikatakan sebagai organisasi jika memenuhi empat unsure pokok (sopia h, 2008) yaitu:

  1.         i.            Organisasi itu merupakan system;
  2.       ii.            Adanya suatu pola aktivitas;
  3.     iii.            Adanya sekelompok orang;
  4.     iv.            Adanya tujuan yang telah di tetapkan;

 

2. Ciri – ciri organisasi

Seperti telah diuraikan di atas bahwa organisasi memiliki 3 unsur dasar, dan secara lebih terperinci, organisasi memiliki ciri – ciri  sebagai berikut :

a)      Adanya suatu kelompok yang dapat di kenal dan saling mengenal;

b)      Adanya kegiatan yang berbeda – beda, tetapi satu sama lain saling berkaitan ( interdependent part) yang merupakan kesatuan kegiatan;

c)      Tiap – tiap orang memberikan sumbangan atau kontribusinya berupa  pemikiran, tenaga dan lain – lain;

d)     Adanya kewenangan, koordinasi, dan pengawasan;

e)      Adanya tujuan yang ingin dicapai

 

3. Prinsip – prinsip organisasi

Prinsip – prinsip organisasi banyak dikemukakan oleh para ahli, salah satunya adalah A.M. Williams dalam buku “Organization of canandian government administration”  (1965), yang menyebutkan bahwa prinsip – prinsip organisasi meliputi hal berikut.

  1. Organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas

Organisasi di bentuk atas dasar adanya tujuan yang ingin dicapai, dan tidak ada suatu organisasi pun yang tidak memiliki tujuan.

  1. Prinsip skala hierarki

Dalam suatu organisasi harus ada garis kewenangan yang jelas dari pimpinan, pembantu pimpinan sampai pelaksana, sehingga mempertegas pendelegasian wewenang dan pertanggung jawaban, dan menunjang efektivitas jalanya organisasi secara keseluruhan.

  1. Prinsip kesatuan perintah

Dalam hal ini, seseorang hanya menerima perintah atau tanggung jawab kepada seorang atasan saja.

  1.  Prinsip pendlegasian wewenang

Seorang pemimpin mempunyai kemampuan terbatas dalam menjalankan pekerjaannya, sehingga perlu dilakukan pendelegasian wewenang kepada bawahannya.

  1. Prinsip pertanggung jawaban

Dalam  menjalankan tugasnya, setiap pegawai harus bertanggung jawab sepenuhnya kepada atasan.

  1. Prinsip pembagian pekerjaan

Suatu organisasi, untuk mencapai tujuannya, melakukan berbagai aktivitas atau kegiatan. Agar kegiatan tersebut  berjalan optimal, dilakukan pembagian tugas / pekerjaan yang didasarkan pada kemampuan dan keahlian dari masing – masing pegawai.

  1. Prinsip rentang pengendalian

Arinya bahwa jumlah bawahan atau staf yang harus dikendalikan oleh seorang atasan perlu dibatasi secara rasional. Rentang kendali ini sesuai dengan bentuk dan tipe organisasi. Semakin besar suatu organisasi dengan jumlah pegawai yang cukup banyak, semakin kompleks rentang pengendaliannya.

  1. Prinsip pemisah

Beban tugas pekerjaan seseorang tidak dapat dibebankan kepada orang lain.

  1. Prinsip keseimbangan

Keseimbangan antara struktur organisasi yang efektif dengan tujuanorganisai dalam hal ini dalam hal ini, penyusunan struktur organisasi harus sesuai dengan tujuan dari organisasi tersebut. Tujuan oranisasi tersebut akan di wujudkan melalui aktivitas / kegiatan yang akan dilakukan.

  1. Prinsip fungsional

Seorang pegawai, dalam suatu organisasi secara fungsional, harus jelas tugas dan wewenangnya, kegiatannya, hubungan kerja, srta tanggung jawab dari pekerjaannya.

  1. Prinsip fleksibilitas

Organisasi harus senantiasa melakukan pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan dinamika organisasi sendiri (internal factor ) dank arena adanya pe ngaruh diluar organisasi (external factor ), sehingga organisasi mampu menjalankan fungsi dalam mencapai tujuannya.

  1. Prinsip kepemimpinan

Dalam organisasi apapun bentuknya diperlukan kepemimpinan, atau ddengan kata lain organisasi mampu menjalankan aktivitasnya karena adanya proses kepemimpinan yang digerakan oleh pemimpin organisasi tersebut.

Adapun menurut yayat (2004) organisasi dapat mencapai tujuannya dengan efektifdan efesien apabila memenuhi beberapa asas pokok yang dapat dijadikan pedoman antara lain:

1)      Perumusan tujuan;

2)      Pembagian tugas pekerjaan;

3)      Pendelegasian kekuasaan;

4)      Rentang pengawasan;

5)      Tingkat pengawasan;

6)      Kesatuan perintah dan tanggung jawab;

Tujuan organisasi mempunyai syarat – syarat sebagai berikut:

1)      Specific, mempunyai ciri – ciri jelas mengenai batas – batas tujuan yang akan di capai;

2)      Realistic, sesuai dengan kenyataan;

3)      Moderate risk, untuk mencapai suatu tujuan, terkandung resiko yang tidak terlalu berat;

4)      Challenging, meantang;

5)      Measurable, tujuan harus dapt diukur, misalnya peningkatan volume produk sebesar 25 % dari produk tahun lalu;

6)      Time phased, kurun waktu yang jelas dengan penjadwalan kerja yang cermat;

 

4. Tipologi organisasi

Tipologi organisasi adalah pengelompokan tipe atau jenis – jenis organisasi. Pengelompokan jenis organisasi dapat dilakukan dengan menggunakan criteria berikut:

a)      Berdasarkan jumlah hukum yang memegang tapuk pimpinan

  1. Bentuk tunggal, yaitu pimpinan organisasi hanya dipegang oleh satu orang.

Kebaikannya adalah segala sesuatu dapat dputuskan dengan cepat sebab pimpinan tidak harus berunding dengan pihak lain karena ia memegang kekuasaan dan tanggung jawab sepenuhnya.

 

Kekurangannya apabila pimpinan tidak mempunyai pengetahuan yang luas, kurang berani bertindak, lambat berfikir dan bertindak sehingga kecepatan dan ketegasan bertindak dari organisasi tidak dapat di capai.

 

  1. Bentuk komisi, yaitu pimpinan organisasi merupakan suatu dewan yang terdiri dari beberapa orang.

Kebaikan :

  • Adanya pembagian tugas diantara anggota dewan sehingga memungkinkan semua bidang tugas mendapat perhatian sepenuhnya;
  • Keputusan – keputusan yang di ambil oleh anggota lebih dari seorang cenderung lebih tepat dari pada yang hanya berdasarkan pertimbangan satu orang saja;
  • Adanya kerja sama yang erat untuk mengikul tanggung jawab bersama  mempunyai peran mendidik diantara angota – anggota dewan itu.

Keburukan :

  • Keputusan tidak dapat siambil dengan cepat ;
  • Menghasilkan tindakan pimpinan yang kurang tegas karena keputsan merupakan hasil pikiran beberapa orang sebagai kesatuan;
  • Anggota sering berlindung di balik keputusan tersebut untuk menghindarkan tanggung jawab.

 

b)      Berdasarkan lalu lintas kekuasaan

1)      Berdasarkan lurus / organisasi lini

Kebaikannya, menurut G.R. Tery (1964:389) dalam bukunya the principle of management, antara lain :

  • Penyampaian informasi dapat dilakukan dengan cepat;
  • Memungkinkan terbentuknya manajer terlatih;
  • Keputusannya dapat di ambil cepat;

       Keburukannya :

  • Penumpikan pekerjaan dtngan seseorng;
  • Tidak memungkinkan spesialisasi
  • Anggota manajer sulit diganti;

2)      Bentuk lini dan staf

Untuk mengatasi  kelemahn dan kekurangan, biasanya para manajer mengakat sejumlah ahli yang disebut staf. Anggota staf adalah anggota yang memiliki hak untuk memberikan bahan – bahan  pertimbangan atau nasihat kepada pimpinan.

3)      Betuk fungsional

Kelebihan bentuk fungsional adalah manajer menjadi lebih cakap dalam bidang pekerjaanya, sedangkan kelemahannya, koordinasi menjadi lebih sukar di laksanakan karena saluran perintah yang menyilang menyebabkan setiap bawahan bertanggung jawab pada lebih dari satu orang atasan.

 

c)      Berdasarkan sifat hubungan personal

1)      Organisasi formal, yaitu setiap bentuk kerja sama antara dua orang atau lebih  yang di atur dan di pola kan secara resmi  dalam rangka mencapai tujuan bersama.

2)      Organisasi informal, yaitu hasil keseluruhan hubungan pribadi yang terjalin antara individu – individu maupun antar kelompok manusia.

 

d)     Berdasarkan tujuan

Organisasi ini dapat dibedakan, yaitu : (1) organisasi yang tujuannya mencari keuntungan atau ‘profit oriented ‘ dan (2) organisasi sosial yang tujuannyatidak mencari keuntungan atau ‘nonprofit oriented’.

 

e)      Berdasarkan sektor sosial

Beberapa jenis organisasi dalam berdasarkan sektor sosial, antara lain (a) organisasi pendidikan, (b) oranisasi kesehatan, (c) organisasi pertanian dan lain – lain.

f)       Berdasarkan fungsi dan tujuan yang dilayani (Parson, 1960)

1)      Organisasi produksi

2)      Organisasi yang bertujuan berorientasi pada politik

3)      Organisasi yang bersifat integral

4)      Organisasi pemelihara

g)      Berdasarkan kepatuhan

1)      Organisasi coercive-alienative

2)      Organisasi renumerative-instrumental

3)      Organisasi normative-moral

4)      Organisasi coercive-instrumental

5)      Organisasi renumerative- moral

6)      Organisasi normative- alienative

7)      Organisasi coercive- moral

8)      Organisasi renumeration- alienative

9)      Organisasi normative- instrumental

h)      Berdasarkan pihak yang memakai manfaat

1)      Mutual benefit organization, yaitu organisasi yang manfaatnya diutamakan untuk dinikmati para anggotanya sendiri

2)      Service organization, yaitu organisasi yang manfatnya diutamakn untuk dinikmati oleh pelanggan

3)      Business organization, yaitu oerganisasi yang sasaran utamanya adalah mencapai laba.

4)      Commonwealth organization yaitu organisasi yang manfaatnya dapat dinikmati oleh masyarakat umum.

 

 

  1. C.    Pengertian Perilaku Organisasi

Secara sederhana, dalam mempelajari perilaku organisasi tercakup empat unsure (walter, 1972), yaitu sebagai berikut:

1)      Aspek psikologi tindakan manusia itu sendiri sebagai hasil studi psikologi.

2)      Adanya bagian lain yang diakui cukup relevan bagi usaha mempelajari tindakan manusia dalam organisasi.

3)      Prilaku organisasi sebagai suatu disiplin, mengakui bahwa individu dipengaruhi oleh bagaimana organisasi diatur dan siapa yang mengawasi mereka.

4)      Walaupun di sadari adanya keunikan tiap – tiap individu, perilaku organisasi lebih banyak menekankan pada tuntutan manajer bagi tercapainya tujuan organisasi secara keseluruhan.

Perilaku organisasi sering disingkat OB adalah suatu bidang studi yang mempelajari dampak  perseorangan, kelompok, dan struktur pada prilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan tentang hal – hal tersebut demi perbaikan efektivitas organisasi.

  1. D.    Sejarah Perkembangan ilmu prilak organisasi

Setelah perang dunia ke I, focus studi organisasi bergeser pada analisis tentang bagai mana factor – factor manusia dan spikologi mempengaruhi organisasi. Hal ini adalah transformasi yang disorong oleh penemuan tentang dampak Hawthorne. Para pakar terkemuka pada tahap awal ini adalah Chester Barand Henri Fayol, Mary paker Follet, Frederick Herzeberg, Abraham Maslow, Davic McCelland, dan Victor Vroom.

            Perang dunia ke II mengahasilkan pergeseran lebih lanjut dari bidang ini, ketika penemuan logistikbesar – besaran dan penelitian operasi menyebabkan munculnya minat baru terhadap system dan pendekatan rasionalistik terhadap studi organisasi.

            Pada tahun 1980an penjelasan – penjelasan budaya tentang organisasi dan perubahan menjadi bagian yang paling penting dari studi ini dengan memanfaatkan pendekatan – pendekatan dari antaropologi, psikologi, dan sosiologi. Berlanjut pada  zaman abad ke -21, prilaku organisasi saat ini menjadi bidang studi yang berkembang pesat. Jurusan studi organisasi ditempatkan dalam sekolah – sekolah bisnis, dan banyak universitas yang juga mempunyai program spokologi industri dan ekonomi industri.

  1. E.     Tingkat Analisis dalam Prilaku Organisasi

1)      Menganalisis prilaku organisasi dalam tingkat individu

2)      Menganalisi perilaku organisasional dari tingkat kelompok

3)      Menganalisis perilaku organisasional dari tingkat organisasi

4)      Faktor lingkungan

  1. F.     Tujuan Memahami Perialaku Organisasi

Setiap disiplin ilmu pasti memiliki tujuan. Begitu juga halnya dengan disiplin ilmu perilaku organisasi. Menurut Nirman (1996), tujuan memahami perilaku organisasi adalah sebagai berikut:

1)      Prediksi

2)      Eksplasi

3)      Pengendalian

 

  1. G.    Keterkaitan Beberapa Disiplin Ilmu terhadap Prilaku Organisasi

Prilaku organisasi merupkan ilmu prilaku terapan yang dibangun dengan dukungan sejumlah disiplin prilaku antara lain:

1)      Psikolog

Merupakan ilmu pengetahuan yang berusaha mengukur, menjelaskan dan kadang – kadang mengubah prilaku manusia.

2)      Sosiologi

Sosiologi mempelajari hubungan manusia dengan sesamanya.

3)      Psikologi sosial

Suatu bidang dalam psikologi yang memandukan konsep – konsep, baik dari psikologi maupun sosiologi.

4)      Antropologi

Studi tentang masyarakat untuk mempelajari manusian dan kegiatannya.

5)      Ilmu politik

Konsttribusi para ilmuwan politik signifikan dalam memahami prilaku dalam organisasi.

 

                                                      

 

BAB 2

MEMAHAMI INDIVIDU DALAM PERILAKU OEGANISASI

 

  1. A.    Pengertian Perilaku Individu

Perilaku didefinisikan sebagai suatu sikap atau tindakan serta segala sesuatu yang dilakukan manusia dalam kehidupannya sehari-hari.

David A.N., Richard Hackman, dan Edward E.L. dalam bukunya “Managing Organizational Behaviour”, menjelaskan prinsip-prinsip dasar manusia berperilaku. Perbedaannya sebagai berikut:

  1. Manusia berbeda perilakunya karena kemampuannya tidak sama
  2. Manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda
  3. Orang berpikir  tentang masa depan dan membuat pilihan tentang bagaimana bertindak
  4. Seseorang memahami lingkungannya dalam hubungannya dengan pengalaman masa lalu dan kebutuhannya
  5. Seseorang itu mempunyai reaksi-reaksi senang atau tidak senang(affective)
  6. Banyak faktor yang menentukan sikap dan perilakuseseorang

 

  1. B.     Kepribadian
    1. Mengenal konsep kepribadian

Kepribadian menurut Allport adalah sebuah organisasi dinamis di dalam sistem psikis dan fisik individu yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya.

Menurut Pervin dan John kepribadian mewakili karakteristik individu yang terdiri atas pola-pola pikiran, perasaan, dan perilaku yang konsisten.

Kepribadian terdiri atas trait dan tipe (type). Trait dijelaskan sebagai konstruk teoritis yang menggambarkan unit/dimensi dasar dari kepribadian. Sedangkan tipe adalah pengelompokkan bermacam-macam trait. Tipe memiliki tingkat regularity dan generality yang lebih besardaripada trait.

Teori trait merupakan teori kepribadian yang didasari oleh beberapa sumsi, yaitu:

  1. Trait merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau tindakan yang membedakan seseorang dari yang lain, sehingga:
    1. Trait relatif stabil dari waktu ke waktu
    2. Trait konsisten dari situasi ke situasi
    3. Trait merupakan kecenderungan dasaryang menetap selama kehidupan, namun karakteristik tingkah laku dapat berubah karena:
      1. Adanya proses adaptif
      2. Adanya perbedaan kekuatan
      3. Kombinasi dari trait yang ada

Sehubunagn dengan adanya peran genetik dalam pembentukan kepribadian, ada empat pemahaman yang perlu diperhatikan:

  1. Meskipun faktor genetik mempunyai peran penting terhadap perkembangan kepribadian, faktor non-genetik tetap mempunyai peranan bagi variasi kepribadian.
  2. Meskipun faktor genetik merupakan hal yang penting dalam memengaruhi lingkungan, faktor non-genetik paling bertanggung jawab terhadap perbedaan lingkungan pada orang-orang.
  3. Pengalaman-pengalaman dalam keluarga adalah hal yang penting meskipun lingkungan keluarga berbeda bagi setiap anak sehubungan dengan jenis jenis kelamin anak, urutan kelahiran, atau kejadian unik dalam kehidupan keluarga pada tiap anak.
  4. Meskipun terdapat kontribusi genetik yang kuat terhadap trait kepribadian, tidak berarti bahwa trait itu tetap atau tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan.
    1. Teori-teori pengembangan kepribadian
      1. Teori psikoanalitik

Teori ini dikemukakan oleh Sigmund Freud yang menurutnya bahwa untuk memahami kepribadian seseorang, kita harus melihat ke dalam dirinya apa yang menjadi dasar perilakunya.

  1. Teori sifat atau perangai

Menurut teori ini kepribadian seseorang selalu tetap dan tidak berubah atau sulit berubah.

  1. Teori kebutuhan

Teori ini dianggap dapat memberikan bantuan untuk lebih memahami kepribadian seseorang.

  1. Teori tingkat kebutuhan

Teori ini lebih memerhatikan manusia yang psikologisnya sehat. Dalam membangun teori hierarki kebutuhan-kebutuhan yang bersifat deduktif, Maslow bertitik tolak dari tiga asumsi pokok:

  1. Manusia adalah makhluk yang sellu berkeinginan. Keinginan mereka tidak pernah terpenuhi seluruhnya.
  2. Kebutuhan atau keinginan yang sudah terpenuhi tidak akan menjadi pendorong lagi.
  3. Kebutuhan manusia tersusun menurut hierarki tingkat pentingnya.
  4. Motif untuk berprestasi (achievment motive)

Teori ini berasumsi bahwa semua kebutuhan itu ada karena dipelajari sehingga kepribadian juga akan berubah kalau seseorang belajar.

 

  1. C.    Atribut Kepribadian
    1. Daerah Pengendalian (Locus of Control)

Daerah pengendalian berkenaan dengan sejauh mana seseorang merasa yakin bahwa tindakannya akan memengaruhi imbalan yang akan diterimanya.

  1. Paham Otoritarian

Sifat kepribadian otoritarian yang tinggi memiliki intelektual yang kaku, membedakan orang atau kedudukan dalam organisasi, mengeksploitasi orang yang memiliki status di bawahnya, selalu curiga, dan menolak perbuatan.

  1. Orientasi Prestasi

Merupakan karakteristik kepribadian yang dapat digunakan untuk meramal perilaku seseorang.

  1. Introversi dan Ekstroversi

Introversi adalah sifat kepribadian seseorang yang cenderung menghabiskan waktu dengan dunianya sendiri dan menghasilkan kepuasan atas pikiran dan perasaan. Ektroversi adalah sifat kepribadian yang cenderung mengarahkan perhatian kepada orang lain, kejadian lingkungan dan menghasilkan kepuasan dari stimulus lingkungan.

  1. Persepsi

Menurut Gitosudarmo, I. (1997) persepsi adalah suatu proses memerhatikan dan menyeleksi, mengorganisasikan, dan menafsirkan stimulus lingkungan.

  1. D.    Tipe-tipe Kepribadian
    1. Teori Carl Gustav Jung

Mengelompokkan sikap manusia menjadi a macam:

  1. Intraversi
  2. Extroversi
  3. Teori Galenus

Berdasarkan pemikirannya, ia mengatakan bahwa keempat tipe temperamen dasar itu adalah akibat dari empat macam cairan tubuh yang sangat penting di dalam tubuh manusia :

  1.  Sifat kering terdapat dalam chole (empedu kuning)
    2.    Sifat basah terdapat dalam melanchole (empedu hitam)
    3.    Sifat dingin terdapat dalam phlegma (lendir)
    4.    Sifat panas terdapat dalam sanguis (darah).

 

 

 

3.  Teori Kretschmer

a. Tipologi fisik:

Tipe piknis, dengan cirri badan bulat, pendek, perut gendut, wajah bundar, badan berlemak, dan dada berisi.

Tipe asthenis, dengan cirri bentuk badan langsing, anggota badan serba panjang, dada rata, kepala kecil, dan wajah sempit.

Tipe atletis, dengan cirri bentuk badan merupakan campuran antara dua tipe sebelumnya

Tipe displastis,  dengan cirri bentuk badan tinggi besar sekali, atau kecil pendek.

 

  1. Teori Sheldon
  • Somatotipe adalah usaha untuk mengukur morphogenotipe melalui pengukuran phenotipe.
  • Morphogenotipe adalah perkembangan bentuk dan struktur dari organisma
  • Phenotipe adalah karakteristik yang nampak

Konsep pengukuran jasmani model W.H Sheldon

Somatotipe performance test, yaitu menentukan morphogenotipe melalui pengukuran phenotipe dengan cara membuat foto-foto tubuh manusia dari muka dan samping sehingga didapatkan variabel2 yang merupakan dasar dari variasi jasmani. Ditemukan tiga komponen / dimensi jasmani :

  • Endomorphy
  • Mesomorphy
  • Ectomorphy

Istilah diatas dihubungkan dengan 3 lapisan pada pembentukan fetus manusia yaitu endoderm, mesoderm, ectoderm. Menurut Sheldon ada 3 tipe pokok keadaan jasmani :

  1. Type Endomorph Komponen endomorphy dominan dibandingkan 2 komponen yang lain. Ciri-ciri : Alat-alat atau organ-organ internal dan seluruh sistem digestif yang berasal dari endoderm sangat berperan. Secara fisik tampak : lembut, gemuk
  2. Tipe Mesomorph Komponen mesomorphy dominan dibandingkan komponen lain. Ciri-ciri : Bagian tubuh yang berasal dari mesoderm lebih berkembang. ( Otot, pembuluh darah, Jantung ). Secara fisik tampak : kokoh, keras, otot menonjol, tahan sakit, banyak ditemukan olahragawan, tentara.
  3. Tipe Ectomorph Komponen Ectomorphy dominan Ciri-ciri : Organ-organ ectoderm lebih berkembang seperti kulit dan sistem syaraf. Secara fisik terlihat : jangkung, dada kecil dan pipih, lemah, otot tidak terlihat.
  1. E.     Mekanisme Memahami Perilaku Individu
    1. Mekanisme pembentukan perilaku menurut aliran behaviorisme

Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan dengan mengondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus tertentu dalam lingkungan.

  1. Mekanisme pembentukan perilaku menurut aliran holistik(humanisme)

Holistik atau humanisme memandang bahwa aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan.

 

  1. F.     Gaya-gaya Perilaku Individu

Ciri-ciri utama gaya perilaku pribadi

  1. Pemikiran sistematis:
    1. Teliti, metodis, dan hati-hati(lamban) dalam bertindak dan memutuskan.
    2. Suka organisasi dan struktur-lebih memilih lingkungan kerja yang objektif, intelektual, dan berorientasi pada tugas.
    3. Bekerja lamban dan lebih suka sendirian, tidak suka keterlibatan dengan orang lain.
    4. Ingin semua benar.
    5. Cenderung introvert dan reflektif.
    6. Kecakapan pemecahan masalah yang baik.
    7. Penggerak yang dominan:
      1.  Tindakan dan keputusan yang tegas.
      2. Mengambil tanggung jawab dan suka mengendalikan.
      3. Fokus pada tugas-berusaha menyelesaikan tugas.
      4. Dingin dan independen, suka bersaing, dan ingin menang sendiri.
      5. Berkehendak kuat.
      6. Toleransi rendah terhadap perasaan, sikap, dan nasihat orang lain.
      7. Bekerja cepat dan mengesankan.
      8. Kecakapan administratif yang baik.
      9. Sifat asertif rendah pembangunan hubungan yang mantap:
        1. Lamban dalam mengambil tindakan dan keputusan.
        2. Menyukai hubungan yang dekat dan bersifat pribadi.
        3. Tidak suka dengan konflik antar pribadi.
        4. Melihat masalah dan memerhatikan hal-hal yang dapat dikerjakan.
        5. Lemah dalam menentukan tujuan dan pengarahan sendiri.
        6. Bekerja lamban dan terpadu dengan orang lain.
        7. Kecakapan konseling yang baik.
        8. Sifat asertif tinggi ekspresif dan antusias:
          1. Tindakan dan keputusan yang spontan.
          2. Suka dengan keterlibatan dan tidak suka sendiri.
          3. Melebih-lebihkan dan menggeneralisasi.
          4. Cenderung bermimpi dan menjebak orang lain dalam mimpinya.
          5. Optimis dan cenderung melihat hal-hal positif dalam hidup, sering menutup-nutupi kenyataan, situasi, dan keprihatinan yang negatif.
          6. Melompat-lompat dari satu kegiatan ke kegiatan lain.
          7. Berperilaku impulsif dan tidak menyukai perencanaan.
          8. Kecakapan persuasif yang baik.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bentuk-Bentuk Badan Usaha

BENTUK BENTUK BADAN USAHA DI INDONESIA

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

Badan usaha merupakan kesatuan organisasi ekonomi yang berbentuk suatu badan hukum serta bertujuan untuk mencari laba. Ditinjau dari kepemilikan modal, badan usaha diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS), dan badan usaha campuran. Badan usaha milik negara adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui pernyataan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Badan Usaha Milik Swasta adalah badan usaha yang seluruh modalnya dimiliki oleh swasta, dapat berbentuk perseorangan maupun persekutuan. Badan usaha campuran adalah badan usaha yang modalnya sebagian milik pemerintah dan sebagian milik swasta.

Keberadaan badan usaha merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah perekonomian. Perekonomian akan membaik jika kondisi badan usaha juga baik. Apabila semua badan usaha dikelola dengan baik dan tepat maka taraf hidup masyarakat akan meningkat. Secara garis besar, peranan utama badan usaha dalam perekonomian indonesia adalah meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Karena badan usaha dapat mengurangi pengangguran dan memperluas kesempatan kerja.

 

1.2. Rumusan Masalah

Permasalahan yang ada pada bentuk-bentuk badan usaha yang ada di Indonesia ini  cukup luas, maka dengan beberapa pertimbangan , penulis akan membatasi masalah yang akan dibahas dikarenakan oleh keterbatasan waktu dan kemampuan.

Rumusan masalah yang ada pada karya tulis ini yaitu:

  1. Apa saja bentuk-bentuk badan usaha yang ada di Indonesia?
  2. Apa fungsi dan peranan badan usaha tersebut?
  3. Bagaimana seharusnya badan usaha itu dikelola?

1.3. Tujuan dan Manfaat

Dalam pembuatan makalah ini, penulis memiliki beberapa tujuan, yaitu :

Tujuan umum:

  1. Agar para pembaca dapat mengetahui apa saja bentuk-bentuk badan usaha yang ada di Indonesia, berikut dengan bagaimana cara pendiriannya, pembubarannya, serta organ-organ yang ada di dalamnya.
  2. Untuk memberikan saran-saran kepada para pembaca bagaimana tentang cara mendirikan suatu usaha.

 

Tujuan Khusus:

  1. Sarana penunjang untuk mengeluarkan pendapat penulis terhadap permasalahan yang mungkin muncul dalam pendirian suatu badan usaha.
  2. Sebagai penunjang nilai semester di mata kuliah hukum bisnis.

 

 

Manfaat:

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya kepada mahasiswa untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai bentuk-bentuk badan usaha yang ada di Indonesia. Manfaat lain dari penulisan makalah ini adalah dengan adanya penulisan makalah ini diharapkan menjadi acuan dalam membuat makalah yang lebih baik.

 

1.4  Kerangka Pikir

 

1.4.1. Pengertian dan Klasifikasi Badan Usaha

Pada umumnya sebagian orang menganggap bahwa badan usaha dengan perusahaan memiliki pengertian yang sama. Pandangan yang menyamakan badan usaha dengan perusahaan dapat dimaklumi, karena bdan usaha dan perusahaan merupakan satu kesatuan dalam melaksanakan kegiatan. Namun sebenarnya keduanya memiliki pengertian yang berbeda.

Badan usaha merupakan kesatuan organisasi ekonomi yang berbentuk suatu badan hukum serta bertujuan untuk mencari laba. Sedangkan perusahaan merupakan kesatuan organisasi modal dan tenaga kerja yang bertujuan untuk menggasilkan barang dan jasa.olehnkarena itu, dapat dikatakan bahwa perusahaan merupakan alat bagi badan usaha untuk mencapai tujuan. Pengertian badan usaha tidak dapat dipisahkan dengan perusahaan, karena keduanya merupakan fungsi yang saling keterkaitan namun mempunyai hakikat yang berbeda.

  1. Badan usaha adalah kesatuan yuridis ekonomis yang mendirikan usaha untuk mencari keuntungan.
  2. Perusahaan adalah suatu kesatuan teknis dan tempat proses untuk memproduksi barang dan jasa secara efektif dan efisien.

Perbedaan antara badan usaha dan perusahaan dapat dilihat dalam tabek berikut.

No.

Badan Usaha

Perusahaan

1.

Merupakan kesatuan yuridis formal.

Merupakan kesatuan teknis produksi.

2.

Bersifat formal.

Tidak selalu bersifat formal.

3.

Bersifat abstrak.

Bersifat konkrit.

4.

Mencari keuntungan.

Menghasilkan produk tertentu.

 

Ditinjau dari lapangan usahanya, badan usaha digolongkan menjadi lima jenis yaitu :

  1. Badan usaha eksrtaktif, yaitu badan usaha yang kegiatannya mengambil hasil alam secara langsung sehingga menimbulkan manfaat tertentu. Contohnya adalah bidang usaha pertambangan, perikanan laut, penebangan kayu, pendulangan emes, atau bidang usaha intan.
  2. Badan usaha agraris, yaitu badan usaha yang kegiatannya mengolah alam sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih anyak. Contohnya pertanian, perikanan darat, peternakan, dan perkebunan.
  3. Badan usaha industri yaitu, badan usaha yang kegiatannya mengolah dari bahan mentah menjadi barang jadi yang siap untuk dikonsumsi. Contohnya perusahaan tekstil, industri logam, kerajinan tangan, assembling.
  4. Badan usaha perdagangan, yaitu badan usaha yang kegiatannya menyalurkan barang dari produsen kepada konsumen atau kegiatan pertukaran atau jual beli. Contohnya grosir, pedagang eceran, supermarket, dan perusahaan ekspor impor.
  5. Badan usaha jasa, yaitu badan usaha yang kegiatannya bergerak dalam bidang pemberian atau pelayanan jasa tertentun kepada konsumen. Contohnya salon, bengkel, notaris, ansuransi, bank dan akuntan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. Kondisi Realitas

 

Hukum ekonomi Indonesia masih membutuhkan peraturan perundangundangan dan upaya harmonisasi hukum nasional dengan hukum internasional juga sangat diperlukan agar bisa mengakomodir berbagai macam kebutuhan dalam pengelolaan ekonomi nasional yang sekarang ini telah berubah sebagai akibat dari fenomena baru dalam dunia bisnis, baik pada skala nasional, regional, maupun internasional.

Pembenahan mendesak di bidang ekonomi adalah landasan yuridis sistem ekonomi nasional sebagaimana tertuang dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Agar perekonomian nasional dapat dikelola dengan baik maka diperlukan suatu pedoman jelas, misalnya dalam suatu peraturan perundang-undangan yang berlandaskan konstitusi. Sebab hingga saat ini masih ditemukan multi penafsiran atas Pasal 33 UUD 1945 tersebut. Sebagai contoh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai salah satu pelaku usaha yang didirikan oleh negara berdasarkan Pasal 33 UUD 1945  memiliki fungsi dan peran strategis dalam pembangunan ekonomi nasional karena BUMN telah memasuki hampir ke semua sektor ekonomi yang ada. Sampai pada 31 Desember 1997 saja BUMN mengelola aset sekitar Rp 461,6 trilyun dan beberapa diantaranya bahkan menguasai industri hulu yang sangat vital dan strategis.

Sebenarnya Pasal 33 UUD 1945 adalah suatu amanat dari Proklamasi dan UUD 1945 mengenai perekonomian nasional Pancasila. Yang dimaksudkan dengan ini adalah suatu susunan perekonomian Indonesia, yang pusatnya adalah kemakmuran rakyat. Yang dimaksud dengan ini adalah mendahulukan tercapainya kemakmuran rakyat, dan di atas itu dibangun secara berencana hal-hal dan bidang-bidang lain dari kehidupan rakyat.

Sejak operasionalisasi BUMN menghadapi banyak persoalan dan tantangan besar, misalnya sebagian besar BUMN menderita kerugian yang cukup signifikan karena dikelola secara tidak efisien dan produktivitas yang rendah sehingga aneka bentuk perusahaan negara ini tidak memiliki kemampuan untuk berkompetisi dalam persaingan bisnis baik di pasar domestik maupun internasional. Beberapa faktor yang menyebabkan pengelolaan sebagian besar BUMN tidak efisien sehingga mengalami kerugian dan menjadi beban keuangan negara antara lain: (i) kaburnya status hukum dan struktur organisasi BUMN, tidak jelas apakah BUMN merupakan suatu pelaku ekonomi yang memiliki otonomi penuh ataukah hanya sebagai pelaksana atau bagian dari struktur organisasi suatu departemen; (ii) mayoritas BUMN tidak memiliki budaya perusahaan (corporate culture), visi dan misi perusahaan; (iii) kurangnya jiwa entrepreneur dan profesionalisme SDM yang mengelola BUMN, sehingga kinerja dan produktivitas sangat rendah: dan (iv) BUMN tidak dikelola dengan prinsip-prinsip manajemen bisnis yang baik (good corporate governance) sebagai akibat dari campur tangan pemerintah yang terlalu besar atau dominan dalam operasional perusahaan.

Dalam pembahasan RUU Keterbukaan Informasi Publik (KIP), pemerintah meletakkan posisi BUMN bukan sebagai badan atau lembaga publik, melainkan sebagai badan usaha atau lembaga privat. Meski keseluruhan atau sebagian besar modalnya dimiliki pemerintah, BUMN adalah badan usaha dan bukan instansi pemerintah. Kekayaan BUMN bukanlah kekayaan negara. Sesuai Pasal 4 UU BUMN, modal BUMN berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Status aset dan kekayaan yang ada di BUMN hasil pengelolaan modal merupakan aset dan kekayaan BUMN itu sendiri karena keuangan dan kekayaan negara yang ada di BUMN hanyalah sebatas modal atau saham.

Sebenarnya fenomena BUMN berlaku dalam sistem ekonomi manapun, termasuk kapitalis liberal. Dalam mengawasi dan mengontrol adalah terjaminnya mekanisme kontrol sosial yang efektif untuk menindak manajemen bila terbukti tidak mampu menyediakan pelayanan barang dan jasa secara baik, benar, wajar, dan adil. Persoalannya adalah menyangkut social accountability yang bersifat politik, sebab manajemen BUMN biasanya ditunjang berdasarkan kriteria politik. Keterkaitannya yang begitu erat dengan politik menjadikan BUMN sebagai bagian dari birokrasi yang absurditas, yang sering berakibat kepada kepentingan status quo kekuasaan politik, celakanya seperti Indonesia masih bermental monarki absolut kapiten yang kebal dari segala kritik, membuat BUMN maju-mundur dan tak mampu bersaing. Kendala yang dihadapi adalah tidak memiliki grand unified design pengelolaan ekonomi Indonesia berdasarkan Pasal 33 UUD 1945, yang diperankan oleh BUMN bersama-sama dengan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS), dan Koperasi untuk mengimplementasikan hak konstitusional publik.

 

2.2. Kondisi Idealis

2.2.11    Macam-Macam Badan Usaha

Badan usaha menurut kepemilikan modalnya dikelompokan menjadi badan usaha milik negara(BUMN), badan usaha milik swasta (BUMS), dan badan usaha campuran.

  1. 1.         Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

BUMN adalah badan usaha yang modalnya dimiliki oleh Negara (pemerintah) baik seluruhnya maupun sebagian. Bentuk badan usaha milik pemerintah dikelompokkan ke dalam perusahaan jawatan (Perjan), perusahaan umum (Perum), dan perusahaan perseroan (persero atau PT)

  1. a.         Perusahaan Jawatan (Perjan)

Perusahaa Jawatan adalah bentuk badan usaha milik Negara yang hamper seluruh modalnya dimiliki oleh pemerintah. Perjan ini berorientasi pelayanan pada masyarakat sehingga selalu merugi. Sekarang sudah tidak ada prusahaan BUMN yang menggunakan model perjan karena besarnya biaya untuk memelihara perjan tersebut.

  1. b.        Perusahaan Umum (Perum)

Perum adalah bentuk badan usaha milik Negara yang brtujuan melayani masyarakat sekaligus mencari keuntungan. Bagian pelayanan dan mencari keuntungan hamper seimbang.

Misalnya, Perum Pegadaian, Perum Damri

  1. c.         Persero

Persero adalah perusahaan yang melakukan usaha dengan tujuan utama mencari laba walaupun tetap melayani masyarakat umum. Bagian mencari keuntungan lebih besar daripada melayani kepentingan masyarakat umum. Misalnya, PT Bank BNI, PT Bank Mandiri, PT Pelindo, PTP Nusantara, PT Garuda Indonesia, dan PT Telekomunikasi.

 

  1. 2.         Badan Usaha Milik Swasta (BUMS)

Badan Usaha Milik swasta adalah badan usaha yang modalnya dimiliki oleh swasta. Landasan hukum pada pendirian BUMS adalah UU 1945 pasal 27 Ayat 2 yang menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Misalnya, PT Indofood, PT HM Sampoerna, dan PT Bumi Karsa

 

  1. 3.         Badan Usaha Campuran

Badan Usaha Campuran adalah badan usaha yang modalnya berasal dari campuran Negara (pemerintah) dengan swasta sehingga dimilki oleh pemerintah dan swasta. Misalnya PT Bank Sentral Asia.

Badn usaha menurut hokum bentuk hukumnya dapat dogolongkan menjadi Perusahaan Perseorangan, Firma, Persekutuan Komanditer (CV=Coomanditer Vennotschaft), Perseroan Terbatas (PT), dan Yayasan.

  1. 1.         Perusahaan Perseorangan(Usaha Dagang)

Perusahaan perseorangan adalah perusahaan yang dimiliki oleh orang seorang. Umumnya perusahaan perseorangan tidak memiliki badan hokum. Pemiliknya bertanggung jawab penuh atas peusahaan sehingga kekayaan pemilik dan kekayaan perusahaan tidak terpisah. Dengan demikian, tanggung jawab pemilik tidak tebatas atas semua utang perusahaan. Setiap bentuk badan usaha selalu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam setiap manajerialnya. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan perusahaan perseorangan.

 

Kelebihan perusahan perseorangan :

  • Pemilik berhak atas semua laba yang diperoleh perusahaan.
  • Pemilik bertanggung jawab atas seluruh kekeyaan sehinggan dapat dijadikan jaminan atas kepercayaan yang dimliki perusahaan.
  • Pengelolaannya sederhana sehingga pemilik dapat dan langsung dapat melaksanakannya.
  • Rahasia perusahaan terjamin

Kekurangan perusahaan perseorangan :

  • Jika kemampuan pemiliknya kurang maka kemungkina untuk berkembang sangat kecil atau lambat. Hal ini akan mengambat perkembangan perusahaan sselanjutnya.
  • Kelangsungan usaha tidak terjmin jika pemiliknya meninggal dunia.
  • Kredit yang diperoleh biasanya kurang menguntungkan untuk pengembangan usaha selanjutnya, karena perusahaan sulit menjadi besar.

 

  1. 2.         Firma (Fa)

Firma adalah perusahaan yang dibentuk oleh dua orang atau lebih dengan memeakai satu nama. Semua pemilik sama-sama bertanggung jawab peuh atas perusahaan. Laba yang diperoleh biasanya dibagi menurut perbandingan modal yang dimasukkan ke perusahaan. Firma ini didirikan dengan akta notaris, namun belum sampai pada bentuk badan hukum yang disahkan oleh Menteri Kehakiman dan HAM.

Adapun kelebihan dan kekurangan firma yaitu sebagai berikut :

 

Kelebihan Firma :

  • Kelangsungan perusahaan dapat terjamin karena diusahakan oleh lebih dari seorang.
  • Resiko ditanggung bersama.
  • Pebagian kerja dapat diatur sesuai kemampuan para pemilik.
  • Modalnya dapat lebih besar dari perusahaan perseorangan.
  • Perolehan kredit dari debitur dapat lebih mudah karena kepercayaan yang dimiliki lebih besar dari perusahaan perseorangan.

Kekurangan Firma :

  • Pengambilan keputusan biasanya lebih lambat dari perusahaan perseorangan karena pimpinan lebih dari seorang.
  • Kerugian atau resiko yang dialami dan dilakukan slah satu anggota/pemilik akan ditanggung bersama.
  • Tidak ada pemisah kekayaan perusahaan dengan kekayaan pemilik.
  1. 3.         Perusahaan Komanditer (CV= Coomanditer Vennotschaft)

Perusahaan komanditer (CV) adalah persekutuan dari beberapa orang yang mengumpulkan modal dan diantara mereka ada seorang atau beberapa orang yang hanya memasukan modal saja.

Perusahaan komanditer (CV) mempunyai dua kelompok anggota /pemilik.

  1. Pemilik modal yang menjalankan perusahaan disebut persero aktif atau persero pengusaha
  2. Pemilik modal yang hanya memasukkan modal tanpa ikut menjalankan perusahaan disebut persero diam atau persero komanditer.

Persero aktif bertanggung jawab penuh atas semua kegiatan perusahaan sedangkan persero komanditer bertanggung jawab sebatas modal yang dimasukkannya, artinya persero aktif tanggung jawabnya tidak terbatas mengenai kekayaan dan utang perusahaan. Jika tejadi kerugian dan timbul utang yang lebih besar dari kekayaanperusahaan, maka persero aktif harus menanggung dan membayar utang perusahaan sampai kekayaan pribadinya. Persero komanditer hanya menanggung sebatas modal yang dimasukkan.

  1. Perseroan Terbatas (PT)

Perseroan terbatas adalah perseroan yang modalnya berasal dari penjualan saham (sero). Orang atau badan yang membeli saham perseroan terbatas berarti ikut memiliki PT tersebut sebatas saham yang dimiliki. PT ini didirikan dengan akta notaris dan disetujui oleh Mentri Kehakiman dan HAM, didaftarkan pada pengadilan, serta diumumkan dalam lembaran Negara.

Dalam akta pendirian PT harus tercantum :

  • Nama perusahaan,
  • Tempat kedudukan,
  • Maksud dan tujuan perusahaan,
  • Janka waktu pendirian perusahaan,
  • Jumlah modal dasar (statuner)
  • Jumlah lembaran saham dan nilai nominal saham perlembar.

Jadi, dapat dikatakan bahwa PT merupakan badan usaha yang dimiliki badan hukum tersendiri. Sehingga sebuah PT dapat menuntut dan dituntut.

Menurut jenisnya, PT terbagi menjadi tiga bagian.

  1. PT Tertutup adalah PT yang modal sahamnya dimiliki oleh orang tertentu atau keluarga tertentu saja. Biasanya saham yang dikeluarkan langsung berbentuk saham atas nama, begitu juga dalam akta pendirian siapa saja yang dapat memiliki atau membeli saham PT tersebut.
  2. PT Terbuka adalah PT yang sahamnya dapat dimiliki atau dibeli siapa saja yang memenuhi syarat. Biasanya bentuk sahamnya adalah saham atas unjuk yang bebas diperjualbelikan kepada siapa saja yang menginginkan. PT Terbuka umumnya diberi tanda (kode) Tbk (Terbuka). Misalnya, PT Bank Sentral Asia Tbk.
  3. PT kosong adalah Pt yang sudah ada izin usahanya dan izin lainnya, namun kegiatannya tidak aktif. PT Kosong ini dapat diperjualbelikan, artinya orang atau badan yang ingin membelinya sudah langsung dapat memiliki izin yang telah diperoleh PT sebelumnya.

Agar kegiatan usaha PT diakui dan disahkan Negara, harus memiliki beberapa persyaratan. Berikut adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mensahkan PT.

  • Ada Akta Notaris Pendirian PT yang disahkan oleh Menteri Kehakiman, dan didaftar pada Pengadilan Negeri setempat.
  • Modalnya memenuhi ketentuan , yaitu para pendiri mengambil (menempatkan) sekurang-kurangnya 20% dari modal dasar. Dari modal yang diambil (ditempatkan) sekurang-kurangnya 50% diantaranya telah disetor dalam perusahaan dalam bentuk uang atau aktivs lainnya.
  1. 5.         Koperasi

Koperasi berasal dari kata co operative yang berarti usaha bersama. Selain itu koperasi dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan prinsip kebersamaan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu memenuhi kebutuhan. Namun, tidak semua usaha ekonomi yang dilakukan sekelompok orang dengan prinsip kebersamaan dapat disebut sebagai koperasi. Untuk dapat disebut sebagai koperasi paing tidak uasah tersebut berazaskan kekeliargaan. Berdasarkan Undang-undang No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperassian Indonesia, disebutkan bahwa koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hokum koperasi dengan melandaskan kegiantannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas azas kekeluargaan.

Berdasarkan pengertian koperasi diatas, terkandung beberapa makna pokok yaitu sebagai berikut :

  1. a.         Koperasi sebagai badan usaha

Koperasi sebagai badan usaha, berarti koperasi harus melakukan prinsip-prinsip sesuai yang diterapkan badan usaha, yaitu berusaha memperoleh keuntungan atau sisa hasil usaha. Karena itu, koperasi harus memiliki organisasi dan manajemen yang baik, dan dikelola secara efisien dan efektif. Namun demikian, koperasi harus tetap memperhatikan prinsip kebersamaan dan kepentingan anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya.

  1. b.        Koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat

Koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat, berarti koperasi berusaha melibatkan rakyat banyak dalam melakukan usaha bersama untuk memenuhi kebutuhan, memperoleh keuntungan, serta meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan bersama.

  1. c.         Koperasi beranggotakan orang-orang atau badan hukum

Koperasi beranggotakan orang-orang terlihat pada koperasi primer, dimana para anggota berasal dari orang pribadi. Misalnya, disekolahmu ada Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI), anggotanya adalah para guru dan pegawai. Koperasi yang beranggotakan badan hokum artinya para anggota koperasii berasal dari beberapa koperasi yang bergabung membentuk satu keporasi tertentu. Misalnya, ditingkat Kabupatenmu ada beberapa koperasi sekolah KPRI, mereka bergabung membentuk Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI).

  1. d.        Prinsip Koperasi

Usaha koperasi yang dikelola oleh para anggota dengan membentuk pengurus koperasi melalui Rapat Anggota, dilaksanakan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi.

Prinsip Koperasi diantanya sebagai berikut :

  • Keanggotaan koperasi bersifat sukarela dan terbuka.
  • Pengelolaan koperasi dilakukan secara demokratis.
  • Pembagian laba (sisa hasil usaha) dilakukan sesaara adil dan sebanding dengan besarnya jasa para anggota.
  • Pemberian balas jasa yang terbatas pada modal
  • Kemandirian
  • Pendidikan perkoperasian
  • Kerjasama antarkoperasi
  1. e.         Azas koperasi

Koperasi mempunyai azas kekeluargaan yang bermaka bahwa semua kegiatan koperasi dilaksanakan dengan azas kekeluargaan dan kerjasama. Hal ini terlihat pada keanggotaan koperasi yang mengutamakan pemenuhan kebutuhan, kemakmuran, dankesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Dari peranan koperasi itu diharapkan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi perekonomian nasional sebagai berikut.

  1. Membantu terwujudnya perekonomian nasional yang demokratis.
  2. Membantu terciptanya perluasan kesempatan kerja.
  3. Membantu masyarakat umum untuk membina dan mengembangkan potensi ekonomi mereka agar dapat memenuhi kebutuhannya secara mudah dan lebih lengkap.
  4. 5.         Yayasan

Yayasan adalah badan usaha yang didirikan oleh orang atau pemerintah dengan jalan memisahkan kekayaannya untuk tujuan tertentu terutama tujuan nasional. Yayasan ada yang didirikan dan dimiliki oleh swasta, seperti Yayasan Dharmais, Yayasan Olah Raga, Yayasan Panti Asuhan, dan ada pula yang dimiliki pemerintah, seperti Yayasan Televisi Republik Indonesia (TVRI). Modal yaysan berasal dari uang yang dipisahkan dari pemiliknya, yaitu dari sumbangan-sumbangan,derma, dan lain-lain.

 

2.2.1.      Fungsi dan Peran Badan Usaha

Badan usaha untuk mencapai tujuannya, perlu menentukan fungsi-fungsi yang akan memperlancar kegiatan usaha. Fungsi-fungsi badan usaha antaralain fungsi produksi, fungsi pembelanjaan, fungsi personalia, fungsi administrasi, dan fungsi pemasaran.

 

 

  1. Fungsi Produksi

Fungsi ini menetapkan barang dan jasa apa, bagaimana cara menghasilkan, dan bagaimana pekerjaan dibagi dan ditempatkan pada pekerjaan produksi agar sesuai dengan tujuan dan keinginan badan usha. Jadi, fungsi produksi ini berusaha mempertahankan kelangsungan produksi dan memikirkan bagaimana pekerjaan itu dapat dilaksanakan dengan cara yang cepat, aman, dan murah, dalam arti bahwa produksi dapat diselesaikan pada waktunya dan dengan biaya yang seekonomis mungkin.

  1. Fungsi Pembelanjaan

Fungsi ini berhubungan dengan masalah keuangan perusahaan. Baik segi likuiditas,soliditas, maupun solvabilitas badan usaha. Disamping itu, fungsi ini juga mengatur keuangan perusahaan baik diluar maupun ke dalam.

  1. Fungsi Pemasaran

Fungsi ini berhubungan dengan masalah marketing product, yaitu bagaimana cara memperoleh barang, apakah barang dibeli dengan tunai atau kredit, mana yang paling menguntungkan, bagaimana penyimpanan barang yang sudah dihasilkan agar terjamin, serta berhubungan dengan masalah penjualan hasil. Penjualan sebagai ujung tombak usaha untuk memperoleh pendapatan/penerimaan, maka bagian penjualan sebaiknya lebih aktif untuk memperkenalkan dan memasarkan barang.

  1. Fungsi Personalia

Fungsi ini mengurus faktor produksi tenaga kerja dengan segala macam permasalahannya, agar mereka secara serentak dapat digerakkan ke arah tercapainya tujuan badan usaha. Fungsi personalia ini menyangkut masalah penerimaan tenaga kerja, pendidikan dan seleksi, upah/jaminan social, penyelidikan terhadap metode kerja, penempatan tenaga kerja, dan promosi. Jadi, berdasarkan fungsi ini pengusaha berusaha agar para tenaga kerja yang ada senang bekerja ditempat kerja itu, berprestasi tinggi, loyal, mempunyai rasa kebanggaan bekerja dperusahaan itu.

  1. Fungsi Administrasi

Fungsi ini melaksanakan pencatatan terhadap segala hal yang berhubungan dengan kegiatan badan usaha, sehingga dari catatan-catatan yang dibuatnya itu, setiap saat dapat diketahui segala hak dan kewajiban badan usaha. Pada suatu badan usaha yang besar, kegiatan administrasi itu dilaksanakan pada bagian tata usaha, bagian keuangan, bagian kepegawaian/personalia, bagian perlengkapan, bagian perencanaan, bagian pabrik/bengkel, bagian statistic, bagian gudang, bagian pengawasan, dan lain-lain.

 

Jenis-jenis konsentrasi badan usaha sebagai berikut :

  1. Trust adalah penggabungan (fusi) dari beberapa perusahaan yang melebur menjadi satu baik modal maupun badan hukumnya. Trust horizontal merupakan gabungan beberapa perusahaan kecil sehingga menjadi besar. Trust vertikal merupakan gabungan dari industri huli sampai industri hilir. Trust pararel merupakan gabungan dari beberapa perusahaan yang sejenis menjadi satu.
  2. Kartel adalah kerjasama antara beberapa perusahaan sejenis, masing-masing tetap memakai nama perusahaannya sendiri.
  3. Holding company adalah gabungan dari perusahaan kecil karena dimiliki oleh lebih seperdua sahamnya oleh perusahaan besar.
  4. Concern adalah gabungan dari bada atau perusahaan untuk sementara waktu dengan mengadakan persetujuan dari beberapa perusahaan, dimana tiap anggota (perusahaan) masih berdiri.

Sedangkan peran badan usaha yaitu sebagai berikut :

  1. Terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa
  2. Meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui pemanfaatan faktor-faktor produksi.
  3. Sumber pendapatan negara melalui pajak dan penerimaan lainnya.
  4. Mendorong munculnya investasi baru oleh masyarakat luas.
  5. Membantu pemerintah mengatasi masalah-masalah perekonomian seperti kemiskinan dan pengangguran.

 

2.2.2.      Pengelolaan Badan usaha

Semua kegiatan dalam pengelolaan badan usaha pada dasarnya ditunjukkan untuk kemajuan perusahaan dan kemakmuran karyawannya. Untuk tujuan tersebut, badan usaha harus dikelola secara professional, yaitu dengan melakukan perencanaaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Pengelolaan badan usaha juga dipegang oleh orang-orang yang berjiwa pengusaha, dengan selalu menerapkan norma-norma yang berlaku dan selalu bertindak manusiawi dalam menjalankan usahanya.

 

2.3  Analisis

Tak dapat kita pungkiri bahwa masyarakat secara keseluruhan telah merasakan perekonomian globalisasi melalui perdagangan bebas. Berbagai kesepakatan , jalinan kerjasama, perjanjian multilateral, berbagai kelompok negara maju dan berkembang, penyatuan mata uang, dan lain-lain, merupakan suatu wujud dari lintas batas geografis-regional menuju pada kepentingan ekonomi internasional yang tak terhindarkan.

Suatu perusahaan baik itu milik negara atau swasta apabila ingin berkembang, maka ia harus memiliki strategi khusus dalam menjalankan usahanya. Metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats).

Adapun cara dalam mengembangkan perusahaan dengan menggunakan strategi manajemen SWOT dengan merumuskan beberapa pertanyaan mendasar:

1.Dimanakah letak perusahaan dan mengarah kemanakah perusahaan tersebut?
2.Kemanakah tujuan perusahaan tersebut?
3.Bagaimana cara perusahaan untuk mencapai tujuan tersebut?

Apabila sudah bisa menjawab pertanyaan diatas, maka perusahaan tersebut harus menentukan target dan menyusun strategi apa yang akan dilakukan dalam menghadapi persaingan pasar.

Selain itu apabila ditinjau dari kondisi realitas, perusahaan-perusahaan di Indonesia mengalami kemunduran yang signifikan dikarenakan mereka tidak memiliki tujuan pasti dalam artian mau dibawa kemana perusahaan mereka ke depannya. Mereka tidak bisa mengendalikan perusahaannya sendiri sehingga membuat ketidakpuasan bagi konsumen yang pada akhirnya akan berujung pada kerugian bagi perusahaan tersebut.

 

2.4  Rekomendasi

Apabila suatu perusahaan menginginkan kondisi yang idealis(ditinjau dari kondisi realitas), maka harus ada perubahan  meskipun dari hal yang terkecil. Beberapa perubahan yang harus dilakukan baik oleh pemerintah atau pemilik badan usaha:

  1. Suatu perusahaan apabila ingin berkembang maka harus meningkatkan pruduktivitasnya dan bekerja lebih efisien sesuai dengan tujuan semula pendirian badan usaha tersebut.
  2. Disamping itu pemerintah harus lebih memberdayakan usaha kecil mikro sebagai langkah strategis dalam mengembangkan perekonomian negara. A
  3. danya sutu lembaga khusus yang bertujuan memberikan pinjaman modal kepada masyarakat yang memang ingin membentuk badan usaha tetapi lemah dalam segi financial.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment